Rapat tersebut turut dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan serta pimpinan BUMN sektor pangan, seperti Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, dan PT RNI/ID Food. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Komisi IV, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa, 7 April 2026.
Dalam paparannya, Amran menegaskan bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan isu strategis yang menentukan keberlangsungan hidup suatu bangsa. Oleh karena itu, menjaga ketahanan pangan harus menjadi prioritas utama demi memastikan kedaulatan dan masa depan negara tetap terjaga.
“Krisis pangan global semakin nyata,” ujar Amran.
Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 724 juta penduduk dunia masih mengalami kelaparan. Kondisi tersebut diperparah oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendorong tambahan sekitar 40 juta orang jatuh ke dalam krisis pangan.
Di tengah situasi tersebut, Amran menyoroti mulai masuknya para investor besar ke sektor pertanian secara masif, termasuk melalui pembelian lahan skala luas, investasi agribisnis, hingga pembangunan ekosistem pangan berbasis teknologi.
Menurutnya, sektor pertanian juga diproyeksikan menjadi salah satu bidang dengan pertumbuhan tercepat hingga 2030. Hal ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan global serta berkembangnya inovasi seperti pertanian berbasis data, bioteknologi, dan vertical farming.
Amran menekankan bahwa pangan kini semakin dipandang sebagai aset strategis yang berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan geopolitik dunia.
BERITA TERKAIT: