Hal itu disampaikan mantan Diplomat RI, PLE Priatna, dikutip dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Minggu malam, 29 Maret 2026.
“Nah, kita kan seolah-olah terganjal nih. Karena BoP, karena ATR, karena kita (dianggap) terlalu pro-western, terlalu pro-AS gitu. Jadi sikap kita pun menjadi apa ya, jadi banci gitu,” kata Priatna.
Akibat anggapan negatif dari Iran itu, ia menyebut dampaknya kepada dua kapal tanker Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz.
Kendati demikian, Priatna yakin hubungan baik antara Indonesia dengan Iran masih bisa diperbaiki asal memiliki kecakapan dalam kemampuan diplomasi, terutama dari Kementerian Luar Negeri RI.
“Pintunya banyak. Kita mau kirim utusan khusus, bisa. Siapa pun bicara di mana dengan orang mana yang bisa dipercaya. Pasti masih ada atensi (dari Iran),” ungkapnya.
Ia menyebut bahwa Indonesia diuntungkan dengan memiliki sejarah yang baik dalam menggalang dunia ketiga seperti negara-negara Asia-Afrika dan Non-Blok.
“Karena kita termasuk yang punya sejarah hubungan baik. Misalnya diperjelas saja sekarang buat kerja sama Indonesia-Iran. (Misalnya) pembuatan drone, pembuatan misil, pembuatan peluru-peluru yang canggih langsung dengan Iran. Tapi itu bisa dilakukan kalau hubungan itu cair antara level paling atas, (contohnya) presiden dengan presiden. Jadi persahabatan yang tulus,” imbuhnya.
Pria yang pernah bertugas di Beijing, Tokyo dan Brussels ini menilai hubungan Indonesia dan Iran masih dalam tahap yang belum sangat buruk. Pasalnya, belum sampai tahap pengusiran diplomatik.
“Saya percaya (hubungan masih baik), karena ukuran yang paling keras adalah kalau duta besarnya ditarik,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: