Iran beberapa kali melakukan serangan balik ke Israel beserta sekutu AS yang ada di Timur Tengah.
Dampak konflik yang terjadi di Timteng akhirnya bisa dirasakan ke seluruh masyarakat dunia terkait lonjakan harga minyak, bahkan hingga menyebabkan krisis ekonomi di suatu negara.
Dengan demikian, berbagai upaya damai digaungkan oleh banyak negara termasuk Indonesia.
Menurut pengamat politik Rocky Gerung, perdamaian menjadi suatu cita-cita, kendati dalam prinsip politik realisme, istilah damai hanya bersifat sementara.
“Harus dipahami bahwa damai itu hanyalah jarak di antara dua perang. Kira-kira begitu, pandangan realisme. Jadi kalau kita bedah the nature of war, hakikat perang itu, ya memang umat manusia itu lah peradaban, itu lah konsekuensi dari posisi manusia terhadap manusia yang lain, yaitu akan ada permusuhan,” kata Rocky dikutip dalam kanal YouTube pribadinya, Rabu malam, 4 Maret 2026.
Lanjut dia, damai hanya ada di surga atau akhirat. Sementara dalam kehidupan di dunia, perang selalu terjadi. Hal itu bisa dilihat dalam sejarah peradaban umat manusia.
“Damai adanya di surga, gampangnya begitu. Jadi kita harus mulai dari filosofi itu. Bahwa perang pasti akan berlanjut. Setelah damai pasti akan ada perang lagi kan,” tegasnya.
Akademisi yang dikenal kritis ini menyebut perdamaian sangat perlu dilakukan agar manusia tidak punah.
“Tapi perdamaian itu sekali lagi dia semacam jeda dari perang. Bukan damai yang abadi, damai yang abadi itu adanya di akhirat,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: