Menurut Andi, dari sisi kalkulasi politik, Gibran dinilai belum memiliki nilai jual yang cukup kuat untuk mendongkrak elektabilitas.
“Prabowo tanpa Gibran adalah pilihan realistis dari para elite partai. Gibran tidak memiliki nilai jual, status dan keabsahan ijazah yang dimiliki Gibran akan menjadi faktor resistensi elektoral,” ujarnya kepada RMOL, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menilai isu terkait status dan keabsahan ijazah tersebut berpotensi menjadi hambatan serius di tingkat persepsi publik dan dapat memunculkan resistensi dalam kontestasi nasional.
Di sisi lain, Andi juga melihat posisi Presiden ke-7 RI Joko Widodo tidak lagi sekuat sebelumnya dalam menentukan arah dukungan politik.
“Di sisi lain Jokowi juga tidak lagi memiliki power dan alat pemaksa yang bisa sukseskan Gibran,” tegasnya.
Karena itu, Andi menilai ruang politik yang tersisa bagi Gibran relatif terbatas. Ia menyebut salah satu opsi yang mungkin adalah mengandalkan dukungan partai tertentu.
“Gibran tinggal hanya mengharapkan perahu dari PSI dalam pilpres mendatang,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: