Program yang berlangsung selama enam hari ini merupakan bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan dalam melestarikan warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat Jawa Tengah.
Direktur SPHC, Barri Pratama, menegaskan bahwa kehadiran perusahaan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, batik bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas budaya yang juga memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Saya ingin memastikan bahwa kehadiran SPHC memberikan dampak positif secara nyata bagi ekonomi masyarakat Jawa Tengah dengan meningkatkan kemampuan membatik pada generasi muda," ujar Barri Pratama dalam keterangan tertulis, Jumat 5 Juni 2026.
Pelatihan ini diselenggarakan bersama Batik Semarang 16, lembaga yang berpengalaman dalam pengembangan dan pelestarian batik di Kota Semarang.
Ketua Litbang, Edukasi, dan Pelatihan Batik Semarang 16, Edhi Prayitno Ige, menjelaskan bahwa selama enam hari, para peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis membatik, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang sejarah dan filosofi motif batik.
Edhi menambahkan, prospek pasar produk batik dinilai tetap menjanjikan selama nilai budaya yang melekat padanya terus dijaga dan dikampanyekan secara luas.
"Kami berharap para peserta pelatihan nantinya dapat menjadi wirausahawan batik yang mandiri dan turut berkontribusi dalam menggerakkan ekonomi kreatif daerah," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: