Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menuturkan, kebijakan Tapera berdasarkan hasil simulasi ekonomi menyebabkan penurunan PDB sebesar Rp1,21 triliun. Hal ini menunjukkan dampak negatif pada keseluruhan output ekonomi nasional.
Huda menjelaskan, dampak negatif itu dihitung menggunakan model input-output yang menunjukkan nilai penurunan pertumbuhan kelompok usaha dan juga pekerja mencapai triliunan rupiah.
"Menunjukkan surplus keuntungan dunia usaha turut mengalami penurunan sebesar Rp1,03 triliun, dan pendapatan pekerja turut terdampak dengan kontraksi sebesar Rp200 miliar," ujar Huda dalam keterangannya kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (6/6).
Penurunan ekonomi di dunia usaha dan juga masyarakat kelompok pekerja, ditegaskan Huda, menjadi salah satu indikator dari komponen naik atau turunnya pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
"Yang berarti daya beli masyarakat (akibat kontraksi pendapatan dunia usaha dan pekerja) juga berkurang dan menurunkan permintaan berbagai jenis sektor usaha," demikian Huda.
BERITA TERKAIT: