Hal itu disampaikan ahli politik dan sosial dari LIPI, Prof Siti Zuhro dalam acara diskusi Seknas PMP bertema "Kepemimpina Perempuan dalam Perspektif Kebangsaan" di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Rabu (22/12).
"Memahami perempuan atau Hari Ibu ini, mari kita memahami secara utuh, tentu ini jangan ditarik dari politik ansih. Tapi ini betul-betul memahami suatu peran penting perempuan dalam konteks dia ada di dalam rumah, di luar rumah, dan di dalam tingkat yang lebih besar makro negara bangsa,†ucap Siti Zuhro.
Siti Zuhro menyampaikan, Indonesia sudah merdeka selama 76 tahun. Dengan posisi perempuan saat ini yang jumlahnya banyak di Indonesia, pasti perempuan memiliki posisi strategis.
“Pertanyaan pentingnya apakah perempuan Indonesia sudah merdeka secara substansial? Sudahkah perempuan memiliki hak yang setara sebagai warga negara? Ini yang kita harus punya empati, kaum perempuan saat ini menduduki status sebagai warga negara kelas dua. Ini realitas,â€ujarnya.
Dalam bidang politik, kata Siti Zuhro, perempuan masih sedikit yang terlibat. Di parlemen, perempuan memiliki kuota sebanyak 30 persen, namun angka tersebut tidak pernah melampaui 21 persen.
“Ini apa yang salah? Ini parpol gimana? PDIP partai besar, jadi kita dorong lagi kaum perempuan betul-betul dipertimbangkan, diakomodasi, dimuliakan, dan diperankan maksimal,†katanya.
Pada dasarnya, perempuan memiliki
multitasiking yang tinggi. Dari fitrahnya, perempuan juga memiliki empati tinggi dan bisa menjadi pemimpin.
“Hati nuraninya, perempuan itu biasanya detail. Perhatiannya penuh sekali dan ikhlas,†tutupnya.
BERITA TERKAIT: