Hal itu disampaikan oleh Inspektur Jenderal Kemenag, Deni Suardini, pada acara Webinar Pengendalian Gratifikasi bertajuk "Mencabut Akar Korupsi" yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui virtual, Selasa sore (30/11).
"Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Gus Yaqut inspiratif dan cepat tanggap menyikapi semua perubahan yang penuh ketidakpastian dan juga penuh keberagaman," ujar Deni seperti dikutip
Kantor Berita Politik RMOL, Selasa sore (30/11).
Gus Yaqut kata Deni, memberikan komitmen yang kuat untuk mewujudkan tuntutan masyarakat. Yaitu, Kemenag yang betul-betul dinamis, kepemerintahan yang baik, bebas dari KKN serta
good governance and clean government.
"Nah ini sangat diwujudkan oleh beliau dalam visi dan misinya," katanya.
Satu hal yang juga diutamakana Yaqut, diterangkan Deni, adalah visi mewujudkan Kemenag yang profesional dan handal dalam membangun masyarakat yang sholeh, moderat, cerdas dan unggul.
"Tujuannya untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, berkepribadian berdasarkan gotong royong," jelasnya.
Deni menyebut, penentuan pencabutan akar korupsi dalam bentuk gratifikasi bisa terwujud tergantung tiga pilar. Yaitu, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
"Jadi semua harus bersinergi, berkolaborasi secara proaktif untuk mencabut akar korupsi yang namanya gratifikasi tersebut," tuturnya.
Dalam acara Webinar ini diawali dan dibuka langsung oleh Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron dan dihadiri oleh narasumber yaitu Wamenkumham Prof. Edward Omar Sharif Hiariej, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Inspektur Provinsi Sumatera Utara Lasro Marbun, dan Junior Manager Pengamanan Pengawalan Kereta PT Kereta Commuter Indonesia Wahyu Listyantara.
BERITA TERKAIT: