KH Yahya Cholil Staquf: Tatanan Dunia Sedang Menuju Equilibrium Baru

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/angga-ulung-tranggana-1'>ANGGA ULUNG TRANGGANA</a>
LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA
  • Rabu, 10 November 2021, 18:43 WIB
rmol news logo Di tengah memanasnya hubungan antar negara di kawasan, Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf justru meyakini, tatanan dunia tengah menuju equilibrium baru.

Dalam konteks tatanan dunia, Gus Yahya mengatakan bahwa negara di dunia baik di regional dan kawasan Indopasifik, menginginkan Indonesia menjadi negara yang kuat. Sebab, letaknya yang sangat strategis dalam menjaga stabilitas.

"Dalam kaitan itu, maka dunia internasional berkepentingan dengan Indonesia yang kuat, yang stabil, dan jauh dari gejolak," demikian kata Gus Yahya saat memberi kuliah umum, Rabu (10/11) di Universitas Pertahanan (Unhan), Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dalam acara yang dihadiri seluruh Civitas Akademika dari S1 hingga S3, Gus Yahya membicarakan tema "Kontribusi Perjuangan Pahlawan Santri Ditinjau dari Perspektif Sosio-Cultural dan Kontekstualisasi Semangat Persatuan dan Rela Berkorban di Era Digital".

Kakak Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu menjelaskan materi kuliahnya dengan pendekatan historis.

Gus Yahya menjelaskan, tatanan dunia saat ini belum bisa disebut stabil apalagi kokoh. Kata mantan Komisioner KPU itu, gejolak secara sporadis sangat mudah terjadi di sejumlah negara dengan pemicu yang susah dijelaskan.

Ia memandang, fakta itu mudah dimaklumi sebab tatanan dunia saat ini, memang baru dibangun.

"Tatanan dunia baru, dibangun di atas puing-puing kolonialisme dan imperialisme yang selama kurang lebih 1.300 tahun diadopsi oleh banyak bangsa di dunia. Jika dibanding era-era penjajahan itu. Maka usia tatanan dunia baru ini amatlah belia. " demikian analisa kandidat kuat Ketua Umum PBNU ini.

Ratusan tahun silam, lanjut pengasuh PP Raudlatut Thalibin Rembang itu, dunia dikuasai oleh imperium-imperium besar.

Sejarah mencatat, masing-masing imperium saling berekspansi untuk menguasai kawasan tertentu. Satu bangsa menjajah bangsa lainnya.

Ia menyebutkan, Imperium Romawi, Persia, Byzantium, Ottoman, Tsar, adalah contoh dari praktik penguasaan satu bangsa atas banyak bangsa lain di dunia. Situasi itu berlangsung berabad-abad lamanya.

Saat memberi kuliah itu, Gus Yahya kemudian memaparkan visinya tentang NU dan dunia internasional. Ia melihat sejumlah bangsa mulai muak dengan penjajahan dalam segala bentuknya.

"Mereka mulai berani berteriak, melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Perlawanan itu perlahan tapi pasti muncul di sejumlah negara jajahan. Termasuk bangsa Indonesia," kata mantan anggota Wantimpres ini.

Gus Yahya juga menyinggung bahwa para founding fathers, yang mulanya meneriakkan mutlaknya membangun tatanan dunia baru yang berkeadilan, satu bangsa hidup setara dengan bangsa lain.

Kala itu, kata Gus Yahya para pendiri bangsa sudah menyuarakan tentang tidak boleh ada lagi penjajahan dalam bentuk apapun.

"Sebelum Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa diperkenalkan, Bapak-Bapak kita sudah lebih dahulu memformulasikan tentang world view baru, lewat Pembukaan UUD 1945," jelas Gus Yahya.

Oleh sebab itu, jurubicara Presiden KH Abdurrahman Wahid ini mengajak segenap komponen bangsa Indonesia untuk membangkitkan rasa bangga atas lahirnya NKRI.

Lebih lanjut Gus Yahya menjelaskan bahwa Proklamasi kemerdekaan yang lalu diterjemahkan dalam Pembukaan UUD 1945 oleh para founding fathers, secara gemilang telah menjadi inspirasi bangsa-bangsa lain di dunia untuk mendapatkan kemerdekaan mereka.

Ia menjelaskan, sejak bangsa Indonesia berhasil lepas dari cengkeraman penjajah, maka bak taburan tunas yang mekar di musim hujan, bangsa-bangsa lain juga melakukan perlawanan, merebut kedaulatan dan menggapai kemerdekaan.

"Sangat jelas, para pendiri bangsa kita meneriakkan tentang kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan karena itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan," terang Gus Yahya.

Atas dasar itu, Gus Yahya berpandangan, para pendiri bangsa tidak hanya ingin Indonesia merdeka, tetapi seluruh bangsa di dunia harus merdeka dari kolonialisme dan imperialisme.

Cita dan wawasan internasional soal kemerdekaan dan kedaulatan ini, jelas Gus Yahya, antara lain disuarakan oleh para ulama dan santri pada era itu.

Gus Yahya kemudian mengulas beberapa fakta pendukung terkait cita-cita kemerdekaan seluruh bangsa.

Kata Gus Yahya, munculnya nama-nama besar seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Wahab Hasbullah, KH Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo dan lainnya merupakan kader-kader bangsa produk asli pesantren.

Argumentasi Gus Yahya, sebelum praktik politik etis Belanda, bangsa Indonesia hanya mengenal pesantren sebagai lembaga pendidikan.

Sejarah mencatat, pesantren adalah komunitas independen yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

Meski pada tahun-tahun itu kerajaan merupakan bentuk pemerintahan yang sah, jelas Gus Yahya, tapi mereka tidak mengkooptasi pesantren.

Dalam bacaan Gus Yahya, ikatan antara dua kekuatan ini, sering disimbolkan dengan penyerahan hasil panen oleh petani yang santri kepada raja.

"Tapi jelas, pesantren itu independen sejak awal pertumbuhannya," kata Gus Yahya.

Lewat dunia pesantren, lalu muncullah para pemimpin informal dari kalangan santri seperti Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Suryomentaram, Ki Ageng Gribig dan lain sebagainya.

Dari tangan mereka, tambah Gus Yahya, lahirlah para santri yang menjadi bakal patriot bangsa dan negara.

"Demikian independennya, hingga sejumlah pesantren lewat para Kiai Ageng, lahirlah kesultanan-kesultanan di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam itu bekerjasama dengan pesantren. Banyak pangeran yang dikirim raja untuk menimba ilmu dari para ulama di pesantren. Pesantren sebagai NU kecil, sampai kapan pun akan selalu menjadi benteng pertahanan bangsa Indonesia," ujar Gus Yahya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA