Jadi Salah Satu Pemodal Asing Utama RI, Airlangga Gandeng Malaysia Genjot Permintaan Minyak Sawit di Dunia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-satryo-1'>AHMAD SATRYO</a>
LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Senin, 25 Oktober 2021, 16:10 WIB
Jadi Salah Satu Pemodal Asing Utama RI, Airlangga Gandeng Malaysia Genjot Permintaan Minyak Sawit di Dunia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Zuraida Binti Kamaruddin di Jakarta, Minggu, 24 Oktober/Ist
rmol news logo Selama semester I tahun 2021, Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia yang berasal dari Malaysia mencapai 706,8 juta dolar Amerika Serikat, dan tersebar di 1.324 proyek. Bagi Indonesia, Malaysia merupakan salah satu mitra ekonomi utama dalam hal investasi dan perdagangan.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat intensifitas hubungan kedua negara dari sisi perdagangan barang, di mana volume perdagangan bilateral antar negara telah mencapai 15,03 juta dolar Amerika Serikat pada tahun 2020 dan 13,43 juta Amerika Serikat selama Januari hingga Oktober 2021.

Saat menerima kunjungan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Zuraida Binti Kamaruddin di Jakarta, Minggu kemarin (24/10), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan komitmennya menggandeng Malaysia memperkuat kerja sama bilateral terkait kebijakan kelapa sawit.

Menurut Airlangga, Indonesia sebagai satu negara produsen Kelapa Sawit harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya siklus harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) melalui peningkatan konsumsi domestik sebagai alat manajemen permintaan.

Mantan Menteri Perindustrian ini memandang, Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) harus memaksimalkan peranannya memaksimalkan target pengelolaan harga minyak sawit berkelanjutan.

"Hal penting yang ingin kami tekankan adalah pentingnya negara-negara anggota CPOPC mengintensifkan upaya untuk memastikan harga minyak sawit berkelanjutan," ujar Airlangga dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/10).

Airlangga menggarisbawahi tren positif atas pertumbuhan permintaan minyak sawit dan tren kenaikan minyak sawit secara umum. Sehingga dia melihat potensi pengelolaan harga minyak sawit bisa dicapai dengan melaksanakan program mandat B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia.

"Strategi ini penting untuk menyeimbangkan pasokan dengan permintaan, yang akan menjaga harga CPO global," tuturnya.

DI samping itu, Airlangga juga menanggapi maraknya kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit, sebagai negara penghasil kelapa sawit, Indonesia-Malaysia perlu melakukan kampanye positif terhadap kelapa sawit secara efektif, efisien dan tepat sasaran.

Sejauh ini, lanjut Airlangga, Indonesia mengapresiasi kemajuan program Countering Anti Palm Oil Campaign yang dilakukan CPOPC berdasarkan persetujuan negara anggota (Indonesia-Malaysia).

Program-program ini katanya sudah termasuk kampanye advokasi di Uni Eropa, kampanye media sosial di negara-negara anggota, serta strategi komunikasi dan promosi di negara-negara konsumen minyak sawit.

Maka dari itu, Airlangga memastikan dalam waktu dekat program kampanye positif diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan minyak nabati lainnya, tidak hanya fokus pada kelapa sawit. Karena diharapkan publikasi kontribusi minyak nabati untuk memenuhi Sustainable Development Goals (SDGs) harus lebih sering disebarluaskan.

"Kami berharap komite dapat bekerja untuk kepentingan terbaik negara-negara anggota, termasuk upaya melawan kampanye negatif terhadap minyak sawit," ucapnya.

Selain itu, Airlangga juga menyampaikan bahwa Indonesia-Malaysia perlu memperkuat ikatan, juga memantapkan kolaborasi dan kerja sama di bidang kelapa sawit. Kedua negara harus terus bekerja sama secara aktif untuk lebih memperkuat CPOPC sebagai satu-satunya organisasi komoditas minyak sawit di dunia.

"Saya ingin menegaskan kembali komitmen kuat Pemerintah Indonesia untuk terus bekerja sama dengan Malaysia. Saya percay, terlepas dari pandemi yang sedang berlangsung, ada banyak peluang yang harus dimanfaatkan kedua negara di tahun-tahun mendatang," tutupnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA