Demikian disampaikan Lead Scientist, The FEDS-Lab, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (FEM IPB), Dr. Iman Sugema, saat menjadi narasumber dalam webinar FEM IPB Universitity bertajuk "PPKM Darurat dan Behavioural Economics" pada Senin (5/7).
"PPKM Darurat merupakan satu alternatif yang paling mungkin ditempuh sekarang," ujar Iman.
Ia mengurai, apabila pemerintah tidak menetapkan PPKM Darurat, maka tragedi kemanusiaan tidak bisa terhindarkan. Karena, a menduga kasus positif Covid-19 per harinya bisa mencapai 30 ribu di saat virus varian baru masuk Indonesia, dan itu akan sangat berbahaya.
"Kalau kasus per harinya 30ribu maka kita akan menyaksikan, bukan kolaps ya, akan tapi korban yang tidak perlu," kata Iman.
Dugaan kasus positif harian yang mencapai 30 ribu tersebut, menurut Iman, aspek kesehatan di dalam negeri bakal tak terkendali.
Karena, meskipun masyarakat yang terpapar Covid-19 bisa melakukan perawatan di rumah atau isolasi mandiri , akan tetapi suplai oksigen pasti sangat terbatas, dan tenaga kesehatan (nakes) tidak akan cukup untuk merawat pasien karena pasti akan kewalahan.
"Coba anda bayangkan, 30 ribu per hari dikalikan 15 hari,
at one time kita harus merawat kira-kira 450 ribu yang terinfeksi Covid-19. Kita hanya punya dokter kira-kira 160 ribu," tuturnya.
"Jadi,
its going to be disaster, dan kemudian orang tidak sempat dirawat di RS, tidak sempat dirawat oleh dokter, akhirnya harus mati di tengah jalan, di rumah, dan sekarang sudah banyak yang tidak tertolong," imbuh dia.
Atas dasar itu, Iman melihat satu upaya untuk menghindarkan hal yang demikian itu adalah dengan melaksanakan PPKM Darurat. Katanya, strategi itu merupakan satu alternatif yang paling mungkin ditempuh pada masa sekarang ini.
"Jadi, kita tidak lagi bicara apakah ini perlu atau tidak. Karena kita ingin mencegah supaya selama dua minggu ke depan
home average ya tidak tercapai 30 ribu. Kan hari ini sudah sampai 29 ribu sekian. Jadi ini sangat darurat," demikian Iman.