Sebab, banyak kebijakan pemerintah yang memang simpangsiur dan kerap berbeda antar menteri satu dengan yang lainnya, sehingga pada akhirnya membuat masyarakat kebingungan.
Demikian kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin saat berbincang dengan
Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Rabu (20/5).
"Wajar jika para tokoh tersebut mengkritik pemerintah. Karena pemerintah banyak membuat kebijakan yang blunder dan tak pro rakyat. Pemerintah sepertinya kebingungan dan tak siap dalam menghadapi wabah Corona. Makanya kebijakan-kebijakannya maju mundur, berubah-ubah, dan saling bertabrakan antar sesama menteri," ujar Ujang Komarudin.
Menurut dosen Universitas Al-Azhar Indonesia ini, salah satu contoh kebijakan yang membingungkan adalah ketika masyarakat diminta untuk tetap berdiam diri di rumah dan dilarang mudik. Namun di sisi lain pemerintah justru membuka layanan transportasi umum.
"Ini lucu saja. Ini yang membuat banyak kerumunan masyarakat dimana-mana: di bandara, pasar, dan jalanan. Ini memang aneh. Geli dan lucu. Di saat corona belum tuntas. Tapi transportasi publik dibuka, sehingga dikhawatirkan masyarakat banyak yang tertular karena banyaknya kerumunan," tuturnya.
"Jadi wajar jika para tokoh tersebut mengkritik kebijakan pemerintah. Yang dianggap aneh dan tak konsisten," demikian Ujang Komarudin.
BERITA TERKAIT: