Setidaknya, harga minyak dunia naik 4 persen lebih imbas terbunuhnya perwira militer Iran, Qassim Soleimani oleh tentara Amerika Serikat (AS).
"Secara umum, ini bisa memperburuk neraca perdagangan migas kita," kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ariyo DP Irhamna kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (3/1).
Hal ini makin memperburuk Indonesia karena neraca dagang Tanah Air juga mengalami defisit. Lebih luas dari migas, konflik yang makin memuncak antara AS dan Iran itu akan makin memerosotkan rupiah.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga akan melemah," sambungnya.
Menurutnya, pemerintah harus segera memutar otak agar dampak ketegangan antara Iran, Irak, dan Amerika Serikat tak makin menjadi-jadi. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengeksplorasi tambang baru.
"Pemerintah perlu melakukan eksplorasi tambang minyak baru dan mempercepat agendan bauran energi agar tidak bergantung terhadap impor minyak. Betul membutuhkan waktu lama, tapi hanya itu cara untuk menghindar dari kondisi global dalam mengatasi defisit neraca dagang migas," tandasnya.
BERITA TERKAIT: