Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko mengurai bahwa masalah pertama karena adanya produk mispricing. Hal ini terkait dengan produk JS Saving Plan, produk asuransi berbalut investasi yang ditawarkan melalui bank (bancassurance).
JS Saving Plan adalah produk asuransi unitlink yang berbasis investasi dan asuransi proteksi kematian.
Guaranted return atau imbal hasil yang diberikan sebesar 9 hingga 13 persen dan dapat dicairka setiap tahun. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan yield obligasi. Akibatnya, Jiwasraya terus terkena risiko pasar.
“Kedua
reckless investment activities atau kegiatan investasi nekat,†terang Hexana kepada wartawan, Jumat (27/12).
Diuraikan Hexana, hanya 5 persen saham yang diinvestasikan di LQ45, dari 22,4 persen aset finansial atau Rp 5,7 triliun. LQ 45 adalah indeks pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdiri dari 45 perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu.
“Reksa dana 59,1 persen atau Rp 14,9 triliun dan hanya 2 persen dikelola top manajer investasi di Indonesia,†tegasnya.
Faktor ketiga adalah
window dressing yang agresif. Praktik ini dilakukan untuk menunjukkan
trading profitability. Modusnya, saham overprice dibeli oleh Jiwasraya kemudian dijual pada harga negosiasi.
“Hal ini dibuktikan dengan aset investasi Jiwasraya yang dimasukkan pada saham dan reksa dana saham yang
underlying asset-nya sama dengan portofolio saham langsung,†urainya.
Sementara faktor keempat adalah adanya tekanan likuiditas dari produk JS Saving Plan. Publik mulai tidak percaya dengan produk tersebut dan mengakibatkan penjualan Jiwasraya turut menurun.
“Selanjutnya, tidak cukup
backup asset yang cukup untuk memenuhi kewajiban, akhirnya menyebabkan gagal bayar,†pungkasnya.
BERITA TERKAIT: