"Pak Jokowi memulai strategi ofensif (karena) mulai khawatir dengan pertumbuhan elektabilitas Prabowo yang berpotensi menyalipnya," kata analis politik Pangi Syarwi Chaniago melalui pesan elektronik kepada
Kantor Berita Poltik RMOL, Minggu (10/2).
Bisa jadi juga, kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu, strategi ofensif dijalankan karena Jokowi mulai lelah dengan propoganda ofensif sang penantang. Berkali-kali dan di banyak kesempatan Jokowi diasosiasikan sebagai antek asing, pro impor, hutang, pro tenaga kerja asing dan sejenisnya.
"Dengan menyerang balik, serangan dan narasi negatif yang dialamatkan ke Jokowi mulai sedikit mereda. Hasilnya Prabowo tidak terlalu sering melancarkan serangan ofensif dengan pendekatan
game theory propoganda politik ke kubu petahana," sambung Pangi.
Bisa jadi juga, katanya, gaya ofensif dipilih sebagai cara Jokowi untuk melihat seberapa kuat daya tahan atau kemampuan bertahan Prabowo.
Pangi menyebut strategi ofensif Jokowi harus dibarengi dengan narasi-narasi yang telah diperhitungkan sebelumnya. Bisa berbalik menjadi blunder jika dilakukan dengan pengelolaan isu yang salah.
"Baiknya, balik saja ke trayek awal substansi kampanye dengan narasi dan literasi yang bernas, kembali bahas janji kerja, visi misi, harapan baru. Sederhana, bagi petahana fokus saja memainkan peran bagaimana satu persatu menjawab janji kampanye tempo dulu. Apa yang diinginkan rakyat dijawab, dijelaskan semua kerja keras, monumen prasasti keberhasilan atau capaian pemerintah selama ini agar masyarakat terpuaskan dengan kinerja petahana," tukas dia.
[dem]
BERITA TERKAIT: