Namun rupanya para pendukung kedua paslon juga ikut berdebat baik di ruang sosial maupun di dunia maya.
Gurubesar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana meminta masyarakat untuk bisa menahan diri agar tidak mudah terpengaruh dengan debat yang mengandung unsur ujaran kebencian di dunia maya.
"Di tengah debat calon kandidat yang semakin memanas, sudah seharusnya masyarakat para pendukung para kandidat ini harusnya secara rasional dalam mendapatkan informasi apapun dari dunia maya ataupun di dunia nyata untuk dapat menahan diri jika menemukan adanya ujaran kebencian yang dilakukan pendukung para kandidat yang juga ikut berdebat melakukan berdebatan," ujar Hikmahanto Juwana di Jakarta, Rabu (23/1).
Lebih lanjut Hikmahanto mengatakan, masyarakat dan para pendukung para kandidat harus dapat berpikir secara rasional dalam memahami proses politik, yaitu lima tahunan dalam perdebatan untuk memilih calon pemimpin bangsa ini.
"Rasional bahwa semua komponen masyarakat harus memastikan bahwa NKRI ini tetap tegak dan terawat dan bukan sebaliknya. Rasional dalam bertindak karena masyarakat yang berbeda pandangan pada akhirnya adalah saudara dan teman sendiri. Jangan sampai berdebat sampai pada titik ingin menghancurkan NKRI," kata mantan dekan Fakultas Hukum UI tersebut.
Pria kelahiran Jakarta, 23 November 1965 ini meminta kepada dan para pendukung untuk dapat mengedepankan etika dan kesantunan dalam berdebat. Hal ini untuk menjaga persatuan agar tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat.
"Etika yang harus dikedepankan adalah jangan pernah merasa ingin menghancurkan bahkan meluluhlantakkan lawan debat. Bahkan bila lawan tidak bisa diyakinkan akan memutus hubungan silaturahmi bahkan menggunakan kekerasan. Jelas ini tidak dewasa," terangnya.
Justru sebaliknya, menurut Hikmahanto, bagaimana meyakinkan lawan dengan berempati.
"Artinya, seandainya saya di pihak lawan bagaimana saya bisa memahami berbagai argumentasi yang disampaikan. Apakah masuk akal atau tidak. Ini yang harus bisa dipahami dan diperhatikan oleh kita semua," tutur pria peraih British Achieving Award dari Pemerintah Inggris ini.
Ia menilai lontaran kebencian muncul karena belum dewasanya masyarakat Indonesia dalam berdemokrasi dan memahami esensi debat itu sendiri.
Jika ujaran kebencian ini terus dibiarkan berkembang, ia khawatir berdampak pada menyuburkan perpecahan dan keberagaman di masyarakat yang ada di negeri ini.
"Padahal para
founding fathers kita ini telah bertekad untuk mendirikan bangsa Indonesia yang didasarkan pada keberagaman," ujar Hikmahanto yang juga anggota Kelompok Ahli BNPT bidang Hukum.
Ia juga meminta kepada pemerintah melalui aparat penegak hukum serta penyelenggara pemilihan umum untuk mengambil tindakan tegas kepada dua pihak yang sedang berkompetisi beserta para pendukungnya apabila masih saja menunjukkan debat yang mengandung unsur ujaran kebencian
"Jangan pernah pemerintah dan aparat penegak hukum mentolerir ujaran kebencian dalam debat karena resikonya sangat besar yaitu perpecahan di masyarakat. Apalagi bila masyarakat tersebut dalam melakukan debat juga sudah menggunakan ancaman kekerasan, ini akan semakin tidak baik bagi keutuhan bangsa ini," tegas peraih gelar doktor dari University of -Nottingham, Inggris ini.
[wid]