Media, Redamlah Berita-berita Hoaks

Sabtu, 24 November 2018, 09:16 WIB
Media, Redamlah Berita-berita Hoaks
Foto/Net
rmol news logo Media arus utama dinilai berperan penting meredam isu hoaks yang beredar di ruang publik. Termasuk terhadap ki­nerja pemerintah. Ini penting, agar kepercayaan masyarakat terhadap media tidak pudar.

Hal ini diingatkan Wakil Ketua Dewan Pers, Ahmad Djauhar. Di era sekarang, ujarnya, ujarnya, arus informasi begitu deras. Di antaranya lewat konten-konten media sosial. Sayangnya, isu yang beredar tak selalu layak dikon­sumsi.

"Media sosial ikut bermain dalam pemberitaan. Tapi tak menganut prinsip jurnalisme," kata Djauhar, dalam diskusi "Empat Tahun Kinerja Pemerintah dan Obyektifitas Pers" di Kopi Politik, Jakarta, kemarin.

Dengan banjirnya informasi, lanjutnya, masyarakat akan hanyut dalam isu-isu yang sebetulnya tak berlandaskan fakta. Bahkan cenderung men­jurus pada berita bohong. Di sinilah kewajiban media me­luruskannya.

Caranya, dengan memilih serta memilah informasi yang sekiranya pantas dan layak untuk publik. Jangan sampai, kabar-kabar kebablasan malah jadi berita. "Para penyebar hoaks menjadi penumpang ge­lap yang memanfaatkan deras­nya informasi," ujar Djauhar.

Media sosial, kata dia lagi, diibaratkan seperti warung kopi. Di mana semua orang bebas menyatakan pendapat serta opininya tanpa larangan. Berbeda dengan media arus utama yang dibatasi aturan.

"Ada Undang-Undang Pers, serta ketentuan-ketentuan yang disepakati organisasi war­tawan," terang Djauhar.

Kaitannya dengan isu hoaks yang menggerogoti pemerin­tahan Jokowi, apalagi men­jelang Pilpres 2019, masih menurut Djauhar, media perlu memberitakan secara obyektif. Bila sebuah prestasi, maka berikanlah apresiasi.

Sebaliknya, jika ada hal yang dianggap tak sesuai, sepatut­nya dikritisi. Biar masyarakat yang menentukan pilihannya sendiri. Peranan media harus adil. Namun tetap akurat da­lam pemberitaan.

"Jangan ikut pola pikir mas­sa. Ketika satu kubu diagung-agungkan, dan kubu lainnya dengan kinerja apapun tetap dianggap jelek. Media harus fair melihat kondisi ini," te­gasnya.

Jika media sudah tidak berimbang menyajikan berita, dia khawatir, publik akan diarahkan pada konten in­formasi di media sosial. Akibatnya, publik bisa terombang-ambing atas informasi yang beredar. ***

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA