Dia berharap, para elite mampu mengedepankan sikap kenegarawanan saat bertarung di Pemilu.
Peringatan itu disampaikan Bambang saat bicara di forum Rembuk Nasional "Mewujudkan Pemilu 2019 yang Aman dan Bermartabat" di Jakarta, Selasa (8/9).
Acara ini dihadiri banyak tokoh. Di antaranya eks Ketua MK Jimly Asshiddiqie, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, Komisioner KPU Hasyim Ashari, tokoh agama Benny Susetyo, dan Staf Ahli Kapolri bidang Sosial Ekonomi Irjen Pol Gatot Edy Pramono.
Kata Bamsoet, sapaan Bambang, Pemilu 2019 akan berlangsung di tengah perkembangan masyarakat yang sangat dinamis akibat kemajuan teknologi informasi. Masifnya informasi di media sosial (medsos) turut memengaruhi cara pandang dan sikap masyarakat. Di tengah kondisi ini, elite harus tampil memberikan teladan.
"Para elite politik jangan mendidik masyarakat melalui berita hoaks dan ujaran kebencian. Mari kita kedepankan sikap kenegarawanan untuk bersaing secara sehat dan menunjukkan sikap siap menang dan siap kalah," kata politisi Partai Golkar ini.
Bamsoet menuturkan, Pemilu 2019 akan menjadi kali pertama ketika kampanye ditentukan kekuatan medsos. Siapa yang menguasai medsos, dialah yang bisa mengendalikan arus opini publik sehingga berpotensi memenangkan Pemilu.
"Media sosial menjadi kekuatan utama pada Pemilu 2019. Sayangnya, perilaku masyarakat di media sosial jauh berbeda dengan budaya masyarakat yang selama ini kita kenal. Budaya santun, saling menghormati, gotong royong, dan guyub tidak ada di media sosial. Saya sangat sedih, sikap dan perilaku masyarakat seolah kebablasan dan tidak mengindahkan etika yang baik di media sosial," tuturnya.
Bamsoet juga tak habis pikir dengan maraknya hoaks maupun ujaran kebencian berbau fitnah bisa bercampur aduk sehingga membentuk opini. Parahnya, hoaks tersebut kemudian diterima sebagai suatu kebenaran lalu disebarluaskan, tanpa ada klarifikasi atau cover boathside. Tak jarang, elite politik maupun orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat menjadi bagian di dalamnya.
"Hiruk pikuk media sosial kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk mencapai tujuan politiknya, dengan mengembangkan politik identitas yang berbasis SARA sehingga menimbulkan konflik di masyarakat. Ini tak boleh kita biarkan. Saya dukung penuh aparat Kepolisian melakukan tindakan tegas. Jika tidak ditertibkan dari sekarang, ini akan menjadi fenomena bola salju yang semakin membesar dan liar. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi taruhannya," tandasnya.
Pekan lalu, saat mengisi diskusi 'Dinamika Elektoral Jelang Pilpres dan Pileg Serentak 2019' di Kantor Lembaga Survei Indikator, Bamsoet juga mengingatkan para elite. Kala itu, dia meminta para elite politik tidak memprovakasi para pendukungnya melalui ujaran kebencian maupun penyebaran hoaks. Elite harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakat dalam pertaruangan politik yang dijalankan.
"Para elite politik harus kedepankan kepentingan bangsa dan negara. Jangan mementingkan ego pribadi maupun kelompok semata. Mari bersama-sama memberikan pencerahan ke khalayak umum. Bukan malah aktif menjadi agen penyebar kebencian," ucapnya.
[nes]