Kebakaran Rumah Nelayan

Sabtu, 28 April 2018, 19:01 WIB
TREND kebakaran rumah nelayan setiap tahun meningkat. Data menunjukkan mulai dari tahun 2011 berjumlah 102 rumah nelayan terbakar meningkat pada tahun 2012 sebanyak 226 rumah. Penyebab kebakaran itu sangat banyak, misalnya ditinggal pergi, kondisi rumah, konsleting listrik, masak-memasak, dan rembesan percikan api dari satu rumah ke rumah lainnya.

Namun, tahun 2013-2014, mengalami penurunan sebesar 86% tingkat kebakaran rumah nelayan. Dari data ini berkurang tingkat kebakaran. Walaupun masih ada kebakaran rumah nelayan, tetapi sudah sangat turun drastis. Tahun 2013-2014 itu bisa dihitung sebanyak 24 rumah dalam rentang waktu setahun. Artinya, berkurangnya sangat banyak dibanding tahun 2012 sebanyak 226 rumah nelayan yang terbakar.

Berkurangnya kecelakaan rumah nelayan terbakar itu, karena perhatian pemerintah sangat detail dengan modifikasi program dan pendekatan terhadap nelayan. Terutama pola pendidikan kesadaran pencegahan kebakaran yang dilakukan pemerintah terhadap nelayan.

Akan tetapi, mulai pada tahun 2014-2018 ini, ada sekitar 1.344 rumah nelayan yang terbakar. Penyebab meningkatnya kecelakaan rumah nelayan terbakar lebih pada kelalaian pemilik: seperti ditinggal pergi tanpa kontrol, sambungan cabang-cabang listrik, konflik antar nelayan, dan kurangnya pengawasan atas potensi kebakaran.

Data 1.344 diatas, hasil olahan sumber data primer dan sekunder yang bersumber pada media online, cetak, peristiwa dan laporan dinas-dinas sosial pemerintahan daerah di masing-masing daerah.

Tentu, peningkatan indeks kebakaran rumah nelayan diatas selama 4 tahun bisa di lihat secara detail. Rata-rata umum penyebabnya kurangnya antisipasi dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menguranggi dan tanggunglangi bahaya kebakaran.

Penting, pemerintah untuk membangun kesadaran pencegahan terhadap kebakaran diwilayah pesisir. Karena apabila terjadi kebakaran dengan kondisi rumah yang berupa gubuk panggung dan jarak rumah yang sangat berdekatan, maka bisa menurunkan tingkat kebakaran dan lebih antisipatif.

Akan tetapi, penting juga apresiasi terhadap pemerintan pusat maupun daerah yang telah lebih banyak membangun rumah susun, klaster, dan program kesiapan rumah layak bagi nelayan. Hal itu juga merupakan upaya antisipasi tingkat kebakaran rumah nelayan karena lebih pada memperbaiki sistem rumah nelayan yang ada.

Program rumah bagi nelayan itu telah dilaksanakan sejak pemerintahan SBY, sampai kini program tersebut masih berjalan. Walapun masa pemerintahan Jokowi dikurangi. Sala satu contoh Perumahan layak bagi nelayan Labuhan Jambu Kabupaten Sumbawa yang dibangun puluhan unit untuk nelayan. Sampai saat ini sudah bisa dipakai dan ditinggali.

Nelayan tentu merasa bahagia apabila pemerintah lakukan pendekatan dengan perbaikan tempat tinggal kawasan nelayan. Selain mencegah tinggal populasi kebakaran dan juga memberikan rasa bahagia terhadap kebidupan yang layak bagi nelayan.

Pemerintahan Jokowi, harus bisa menggurangi tingkat kebakaran rumah nelayan di wilayah pesisir. Tentu berbagai program dan pendekatan yang harus dilakukan. Yang paling penting adalah memberikan kesadaran pada masyarakat nelayan untuk menjaga dan mengantisipasi kebakaran yang bisa mengakibatkan kehilangan nyawa maupun kerugian materil mereka.[***]
Rusdianto Samawa
<>Front Nelayan Indonesia (FNI).

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US