Kita menyebut diri sebagai bangsa maritim, tetapi masih banyak nelayan kecil yang untuk mendapatkan es batu saja harus mengorbankan waktu, tenaga, dan bahan bakar minyak.
Kita berbicara tentang ekonomi biru, tetapi sering lupa bahwa ekonomi biru tidak akan tumbuh dari kampung nelayan yang logistiknya mahal, dermaganya terbatas, pasarnya sempit, sementara masyarakatnya harus berjuang hampir sendirian.
Karena itu, ketika Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hadir sebagai program strategis nasional Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah kepemimpinan Menteri Sakti Wahyu Trenggono, saya membacanya bukan sekadar sebagai program pembangunan fisik.
Bagi saya, ini adalah ujian moral bagi negara maritim: apakah negara benar-benar hadir di pesisir dan pulau-pulau kecil, atau masih sekadar mahir menyebut laut dalam kalimat-kalimat besar pembangunan.
Di Desa Sorue Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Kampung Nelayan Merah Putih tidak lagi sekadar hadir sebagai bangunan program.
Ia mulai bekerja sebagai ruang hidup baru; tempat kapal nelayan bersandar, tempat es batu menjadi penolong ekonomi, tempat perempuan pesisir memperoleh penghasilan tambahan, serta tempat harapan masyarakat perlahan menemukan dermaganya.
Itulah yang mendorong saya menulis
The Series Kampung Nelayan Merah Putih. Sebagai dosen dan aktivis di bidang kelautan dan perikanan, saya tidak ingin membaca program ini hanya dari dokumen perencanaan, laporan kegiatan, atau seremonial peresmian.
Dokumen bisa sangat rapi, laporan dapat disusun sangat tebal, dan seremoni sering kali berlangsung meriah. Akan tetapi, pembangunan yang sesungguhnya tidak diuji dari tepuk tangan saat peresmian.
Ia diuji dari suara masyarakat setelah pejabat pulang, tenda dibongkar, dan baliho mulai pudar diterpa angin laut.
Atas dasar itu, saya melakukan wawancara dan diskusi mendalam dengan pengelola program serta masyarakat pesisir di Sorue Jaya.
Suara lapangan merupakan laboratorium paling jujur untuk menilai keberhasilan pembangunan. Di sana tidak ada bahasa teknokratis yang terlalu licin.
Yang ada adalah cerita nelayan tentang biaya melaut, kisah ibu-ibu tentang tambahan penghasilan, pengalaman pengelola dalam mengembangkan kawasan, serta harapan kampung yang mulai tumbuh.
Dari percakapan awal dengan Rahman Djuhasin dari Dinas Perikanan Kabupaten Konawe, tergambar bahwa kehadiran KNMP Sorue Jaya telah memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan usaha nelayan dan ekonomi masyarakat lokal. Salah satu manfaat yang mulai dirasakan adalah terbukanya ruang pendapatan tambahan bagi istri nelayan melalui kegiatan
packing ikan.
Dari aktivitas tersebut, mereka dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp1.500 hingga Rp2.500 per kilogram.
Bagi sebagian orang yang membaca angka dari balik meja kantor, nilai itu mungkin tampak kecil. Akan tetapi, bagi rumah tangga nelayan, tambahan pendapatan seperti itu bukan sekadar angka.
Ia adalah uang dapur, biaya sekolah anak, tambahan belanja keluarga, sekaligus tanda bahwa perempuan pesisir mulai masuk ke dalam rantai nilai perikanan.
Di sinilah satire pembangunan kita menemukan cerminnya.
Negara kadang terlalu sibuk menghitung triliunan rupiah investasi, sementara martabat ekonomi keluarga nelayan sering kali bertumbuh dari ribuan rupiah yang diperoleh secara langsung, halal, dan bermakna.
Pengalaman di Sorue Jaya menunjukkan bahwa pembangunan nelayan tidak boleh hanya berpusat pada laki-laki yang melaut. Ekonomi pesisir selalu bekerja dalam satu ekosistem keluarga.
Ketika nelayan pulang membawa ikan, ada perempuan yang membantu mengolah, memilah, membersihkan, mengemas, menjual, serta menjaga agar ekonomi rumah tangga tetap bergerak.
Ketika ibu-ibu pesisir memperoleh ruang pendapatan dari kegiatan packing ikan, sesungguhnya program ini sedang membuka pintu menuju pemberdayaan yang lebih luas.
Pandangan serupa disampaikan oleh La Ambo, salah seorang nelayan penangkap ikan. Menurutnya, keberadaan KNMP sangat membantu aktivitas nelayan, terutama dalam memperoleh kebutuhan es batu.
Sebelum fasilitas tersebut tersedia, nelayan harus menempuh perjalanan ke PPS Kendari atau TPI Sodohoa untuk mendapatkan es. Perjalanan itu tentu membutuhkan waktu, tenaga, serta bahan bakar minyak. Dalam ekonomi nelayan kecil, waktu adalah biaya, jarak adalah beban, dan BBM adalah napas usaha.
Saat ini, dengan tersedianya es balok di KNMP Sorue Jaya seharga sekitar Rp8.000 per balok, nelayan dapat menghemat waktu sekaligus biaya operasional.
Bagi sebagian orang, es batu mungkin hanyalah benda dingin yang mudah mencair. Bagi nelayan, es adalah alat mempertahankan mutu ikan, menjaga harga jual, serta memperpanjang peluang agar hasil tangkapan tidak cepat rusak.
Dalam konteks ini, es batu bukan sekadar sarana teknis. Ia adalah infrastruktur ekonomi.
Di titik inilah kita perlu belajar rendah hati dari hal-hal sederhana. Pembangunan maritim tidak selalu dimulai dari kapal besar, pelabuhan megah, atau istilah asing yang sulit dipahami masyarakat.
Kadang ia dimulai dari es balok seharga Rp8.000 yang membuat nelayan tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Kendari atau TPI Sodohoa.
Kadang ekonomi biru tidak lahir dari ruang konferensi internasional, melainkan dari fasilitas sederhana yang benar-benar bekerja di kampung nelayan.
Kita terlalu sering membangun narasi besar tentang laut, tetapi lupa menyelesaikan persoalan kecil yang justru menentukan kehidupan nelayan. Kita berbicara tentang hilirisasi, sementara nelayan masih bertanya di mana memperoleh es.
Kita membahas rantai pasok, sementara biaya perjalanan masih menjadi beban. Kita mengejar daya saing, sementara fasilitas dasar belum selalu tersedia di tempat mereka hidup dan bekerja.
Karena itu, ketika KNMP Sorue Jaya mulai menjawab sebagian kebutuhan tersebut, ia patut dipandang sebagai langkah penting yang harus dijaga, diperkuat, dan diperluas.
Dampak KNMP Sorue Jaya juga tidak hanya terlihat pada sektor perikanan tangkap. Pada akhir pekan, terutama Sabtu dan Minggu, kawasan ini mulai menarik kunjungan masyarakat dari sekitar Sorue Jaya maupun Kota Kendari.
Mereka datang untuk menikmati suasana pesisir, mandi laut, berjemur, mencicipi kuliner, serta berwisata bersama keluarga.
Kehadiran wisatawan lokal membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, terutama melalui usaha kuliner pesisir. Pendapatan dari aktivitas wisata tersebut bahkan dapat mencapai sekitar Rp500.000 hingga Rp1.000.000 pada akhir pekan.
Fenomena ini menarik. Kawasan yang awalnya dirancang sebagai pusat layanan nelayan perlahan berkembang menjadi ruang wisata pesisir berbasis masyarakat.
Pada satu sisi, ia melayani kebutuhan nelayan. Pada sisi lainnya, ia membuka sumber ekonomi baru bagi warga lokal. Di sinilah KNMP Sorue Jaya memiliki potensi ganda: sebagai pusat aktivitas perikanan sekaligus embrio destinasi wisata bahari rakyat.
Potensi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Kawasan yang ramai dapat berubah menjadi semrawut apabila tidak dikelola dengan baik.
Wisata yang berkembang tanpa tata kelola berisiko melahirkan sampah, konflik ruang, ketidaknyamanan pengunjung, hingga kerusakan lingkungan. KNMP Sorue Jaya membutuhkan pengelolaan profesional, bukan sekadar antusiasme sesaat. Antusiasme masyarakat adalah modal sosial yang berharga, tetapi tanpa tata kelola yang baik, modal sosial itu bisa habis sebagai cerita akhir pekan.
Pengelola KNMP perlu terus berinovasi. Kawasan ini dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata mandi, wisata memancing, wisata perahu, kuliner ikan segar, edukasi perikanan, hingga ruang belajar mengenai kehidupan nelayan. Seluruh potensi tersebut harus ditopang oleh sarana dan prasarana yang memadai.
Tempat bilas, toilet umum, area parkir, gazebo, tempat sampah, papan informasi, area kuliner yang tertata, tempat duduk pengunjung, sistem keamanan kawasan, serta peralatan keselamatan wisata bahari bukanlah kemewahan.
Semua itu merupakan kebutuhan dasar apabila KNMP ingin tumbuh sebagai kawasan pesisir yang bersih, sehat, rapi, indah, dan berkelanjutan.
Di sinilah makna “Berseri” perlu diperluas. Berseri tidak cukup dimaknai sebagai kondisi fisik yang bersih, sehat, rapi, dan indah. Berseri harus berarti ekonomi masyarakat bergerak.
Berseri berarti nelayan lebih mudah mendapatkan es. Berseri berarti perempuan pesisir memperoleh penghasilan. Berseri berarti pemuda memiliki ruang kreativitas. Berseri berarti wisata berkembang tanpa merusak lingkungan. Berseri berarti tata kelola dijalankan secara transparan, profesional, dan partisipatif.
Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya tidak boleh menjadi program yang hanya tampak bagus ketika difoto dari udara. Ia harus terlihat baik ketika dilihat dari dapur nelayan.
Ia harus terasa ketika nelayan menghitung biaya melaut. Ia harus hidup ketika ibu-ibu menerima upah dari kegiatan
packing ikan.
Ia harus bermakna ketika anak muda menemukan peluang usaha di kampungnya sendiri. Ia harus membanggakan ketika masyarakat menyadari bahwa desa pesisir mereka bukan lagi halaman belakang pembangunan, melainkan halaman depan masa depan maritim daerah.
Pemerintah pusat telah membuka jalan melalui program strategis nasional ini. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah meletakkan fondasi penting.
Keberlanjutan KNMP selanjutnya bergantung pada kemampuan pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola, nelayan, perempuan pesisir, pemuda, karang taruna, pelaku UMKM, serta tokoh masyarakat untuk bekerja dalam satu irama.
Kolaborasi tidak boleh berhenti sebagai kata yang terdengar manis dalam sambutan. Kolaborasi harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Pemerintah daerah perlu memastikan dukungan infrastruktur lanjutan. Pemerintah desa perlu mengintegrasikan KNMP ke dalam arah pembangunan desa. Pengelola harus membangun sistem kerja yang transparan. Nelayan perlu menjadi pelaku utama, bukan sekadar pengguna fasilitas.
Perempuan pesisir harus diberi ruang yang lebih besar dalam kegiatan ekonomi. Pemuda dan karang taruna perlu dilibatkan dalam pengelolaan wisata, kebersihan, promosi digital, serta ekonomi kreatif. Akademisi harus hadir sebagai pendamping dan pengawal agar pembangunan tidak kehilangan orientasi sosialnya.
Sebagai akademisi, saya melihat KNMP Sorue Jaya sebagai ruang belajar penting tentang bagaimana kebijakan nasional bertemu dengan kebutuhan lokal. Sebagai aktivis kelautan dan perikanan, saya melihatnya sebagai peluang untuk memperkuat martabat nelayan.
Sebagai warga negara kepulauan, saya memandangnya sebagai tanda bahwa negara mulai menambatkan harapan di dermaga-dermaga kecil, bukan hanya mengibarkan jargon besar dari pusat kekuasaan.
Makna DukunganDukungan terhadap program ini tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis. Justru karena program ini penting, ia harus dikawal.
Karena program ini strategis, ia harus dijaga agar tidak jatuh menjadi proyek biasa. Karena ia membawa nama Merah Putih, manfaatnya harus benar-benar sampai kepada masyarakat. Merah Putih tidak boleh hanya menjadi warna papan nama. Ia harus menjadi rasa keadilan yang dirasakan nelayan.
Kita perlu memastikan bahwa KNMP Sorue Jaya tidak berhenti sebagai bangunan, tetapi berkembang menjadi sebuah ekosistem.
Ada fasilitas, ada pengelola, ada kegiatan ekonomi, ada kelembagaan, ada pasar, ada wisata, ada kebersihan, ada keamanan, ada inovasi, serta ada partisipasi masyarakat. Ketika seluruh unsur itu bekerja secara bersama-sama, KNMP Sorue Jaya dapat menjadi model pembangunan pesisir yang tidak hanya membangun tempat, tetapi juga membangun harapan.
Pada masa depan, saya membayangkan KNMP Sorue Jaya menjadi kawasan pesisir yang benar-benar hidup. Pagi hari nelayan datang membawa hasil tangkapan. Es tersedia dengan mudah. Ibu-ibu terlibat dalam pengemasan dan pengolahan hasil perikanan.
Anak-anak muda membantu promosi digital, wisata perahu, serta usaha kuliner. Pengunjung menikmati laut dengan tertib. Sampah dikelola. Keamanan dijaga. Produk lokal dipasarkan. Cerita nelayan diperkenalkan kepada publik. Pemerintah hadir bukan hanya saat peresmian, tetapi melalui pendampingan yang berkelanjutan.
Apabila itu terwujud, KNMP Sorue Jaya akan menjadi lebih dari sekadar program nasional.
Ia akan menjadi bukti bahwa pembangunan pesisir dapat berjalan ketika negara, masyarakat, dan pengelola bergerak dalam satu tujuan: memperkuat ekonomi nelayan, menjaga lingkungan, serta membangun martabat masyarakat pesisir.
Pembaca sekalian, Sorue Jaya memberi pelajaran sederhana kepada kita. Negara maritim tidak cukup dibuktikan melalui pidato tentang laut.
Negara maritim harus hadir dalam es batu yang terjangkau, dermaga yang aman, pasar yang terbuka, perempuan pesisir yang berdaya, pemuda yang kreatif, serta kampung nelayan yang tumbuh dengan wajah berseri.
Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya bukan hanya tempat kapal bersandar. Ia adalah tempat harapan masyarakat pesisir berlabuh.
Di dermaga kecil seperti inilah kita dapat melihat wajah Indonesia maritim yang sesungguhnya: tidak bising oleh slogan, tetapi bekerja pelan-pelan; tidak megah oleh seremoni, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari; tidak hanya berbicara tentang laut, tetapi benar-benar menyeberangkan keadilan hingga ke kampung nelayan.
La Ode Mansyur, S.Pi., M.SiDosen Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara
BERITA TERKAIT: