"Meski nilainya tidak besar, tapi kami berharap bisa mengurangi beban warga, sambil menyerap aspirasi mereka," ujar Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Timur, Adi Kurnia Setiadi, Jumat (9/3).
Selain soal kesejahteraan, menurut Adi, warga juga kerap dipusingkan dengan mahalnya biaya pemakaman di ibukota. Sedikitnya sekitar Rp 5 juta untuk pengurusan jenazah sampai pemakaman dalam kota. Oleh karena itu banyak kalangan masyarakat tidak mampu yang pusing tujuh keliling untuk mengurus penguburan anggota keluarga yang meninggal dunia.
"Biaya minimal Rp 5 juta itu belum termasuk dengan urusan perawatan di rumah sakit. Biaya itu hanya untuk pemulasaraan jenazah meliputi memandikan, pengkafanan, sewa mobil ambulans, sampai penguburan," papar Adi.
Belum lagi kalau kena pungli oleh oknum petugas TPU, maka biayanya bertambah lagi. Berdasarkan pengamatannya, banyak warga yang tak mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga minta sana sini atau cari pinjaman.
"Kasihan mereka sudah kehilangan anggota keluarga dan dihadapkan dengan masalah utang," kata Adi yang merasa terketuk hatinya untuk membantu warga miskin yang sedang berduka.
"Untuk itulah, kami berniat mendirikan Rumah Aksi yang tujuannya membantu mengatasi masalah tersebut," tambah Adi.
Selama ini Adi sudah menyumbangkan dua unit mobil ambulan untuk kebutuhan warga Jakarta Timur.
"Namun jumlahnya tak sebanding dengan warga Jaktim yang sekitar 3 juta jiwa. Nanti setelah Rumah Aksi diresmikan, secara bertahap saya akan menambah sampai sepuluh mobil ambulans plus fasilitas pemulasaraan jenazah," papar Adi sambil nenambahkan kata "Aksi" merupakan singkatan dari namanya.
Rencananya Rumah Aksi akan diresmikan awal April dan pusatnya berlokasi di Jalan Swadaya, Durensawit dan untuk selanjutnya Rumah Aksi akan dibangun di tiap kelurahan.
"Rumah untuk Sahabat Aksi bukan hanya melayani kader Gerindra tetapi juga masyarakat umum," pungkas Adi yang akan ikut meramaikan bursa DPRD DKI Jakarta pada Pileg 2019.
[dem]
BERITA TERKAIT: