Istilah poros tengah ini sudah muncul sejak awal reformasi, tahun 1999, yang akhirnya mengantarkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Presiden RI.
Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Irfan Ahmad Fauzi menila wacana itu wajar dalam demokrasi.
"Poros ini menjadi bagian daripada proses penjajakan dan kalkulasi untuk mencari sosok alternatif di Pilpres mendatang," kata Irfan di Jakarta, Jumat (9/3).
Menurut dia, poros yang dianggap mewakili entitas muslim ini bisa menjadi harapan agar proses demokrasi lebih dinamis. Paling tidak, pertarungan nantinya jangan sampai melawan kotak kosong.
"Ya intinya parpol-parpol ini harus berani tampil dan percaya diri," imbuhnya.
Demokrasi yang proposional tidak berjalan jika hanya fokus calon incumbent.
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di S2 Unpad tersebut pun tak ingin poros tengah semata memanfaatkan potensi besar umat Islam di Indonesia.
"Ya kalau kita melihat lebih kepada sosok yang diusung sebagai capres-cawapres serta visi yang dibawanya,†pungkas Irfan.
[wid]
BERITA TERKAIT: