Pemuda Surakarta Deklarasi Relawan Kocak Untuk Pilpres 2019

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Minggu, 26 November 2017, 20:25 WIB
Pemuda Surakarta Deklarasi Relawan Kocak Untuk Pilpres 2019
RMOL
rmol news logo Berangkat dari realitas kondisi demokrasi di Indonesia yang mulai memprihatinkan, sekelompok anak muda di Kota Surakarta sepakat mencari figur pemimpin yang mampu membangun Indonesia yang toleran berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta Islam sebagai rahmatan lil alamin.

"Jawabannya sudah kami temukan, memasangkan Presiden Jokowi sebagai calon presiden 2019 dengan segala prestasinya dalam periode pertama dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai pasangan capres-cawapres 2019 merupakan jawaban tepat, ideal dan menjadi kebutuhan masyarakat," terang Koordinator Kocak (Jokowi-Cak Imin) Prijo kepada wartawan, Minggu (26/11).

Dia menjelaskan, pasangan Jokowi-Cak Imin atau yang disingkat Kocak merupakan representasi dari kekuatan nasionalis dan Islam Nusantara. Jokowi mewakili PDI Perjuangan dan Cak Imin mewakili Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) serta Nahdlatul Ulama.

"Dua arus besar tersebut saat ini menjadi mainstream dalam peta politik nasional. Demikian sikap politik kami, segenap pemuda dan pemudi Kota Surakarta yang tergabung dalam Relawan Kocak. Sekaligus kami mengajak kepada seluruh komponen masyarakat untuk bergabung dalam Relawan Kocak untuk menyukseskan Jokowi-Cak Imin sebagai presiden dan wakil presiden 2019-2024," papar Prijo.

Duet tersebut diyakini mampu mengatasi perang kebencian yang menjurus pada fitnah dan produksi informasi hoax. Hal itu tentu sangat memprihatinkan kalangan muda khususnya sebagai generasi penerus bangsa.

"Karena banyak kalangan muda yang terpengaruh berita-berita yang tidak benar. Misalnya Presiden Jokowi adalah keturunan PKI, pemerintahan Presiden Jokowi tidak berpihak kepada umat Islam, dan isu-isu kelompok minoritas dalam hal ini adalah etnis Cina. Itu semua menghancurkan demokrasi," beber Prijo.

Dia menambahkan, demokrasi yang sudah berhasil dibuka sejak Reformasi 98 telah jauh mengalami kemunduran dalam penerapannya. Kebebasan berpendapat tidak dilakukan secara ilmiah dan beradab berdasarkan data atau fakta yang ada, akan tetapi justru dilakukan dengan memanipulasi data menjadi sumber berita palsu yang menjurus fitnah.

"Dampak dari situasi nasional tersebut, selain banyak generasi muda yang terpengaruh, adalah munculnya kembali sikap apatis terhadap politik di kalangan generasi muda maupun masyarakat umum. Melihat politik sebagai sesuatu yang kotor dan tidak baik. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan dan berbahaya bagi kelangsungan NKRI," tutur Prijo.

Untuk itu, Relawan Kocak mendorong tumbuhnya demokrasi yang sehat serta toleran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Upaya konkrit yang dilakukan adalah dengan berjejaring dan mendorong komunitas-komunitas muda untuk sadar politik. Bahwa politik yang benar adalah justru mencerdasakan kehidupan bangsa.

"Dengan politik, masyarakat menjadi cerdas dan sadar akan hak-haknya sekaligus paham akan kewajiban dan tahu ke mana arah perjalanan bangsa ini. Dan yang tidak kalah penting adalah perlunya sikap toleran untuk saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleran ini menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam masyarakat," demikian Prijo. [wah]  

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA