Namun demikian, calon alternatif yang dibutuhkan Indonesia saat ini bukan seorang yang ahli militer. Sebab saat ini bukan dalam suasana perang.
Begitu kata pengamat kebijakan publik Syafril Sjofyan dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis (5/10).
"Bukan juga ahli hukum karena jika hukum ditegakkan sama terhadap setiap orang selesai, apalagi jika kesejahteraan meningkat angka kriminalitas turun," jelasnya.
Syafril menjelaskan bahwa Indonesia saat ini tertinggal di bidang ekonomi dari negara-negara Asia, bahkan Asia Tenggara.
Akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang lambat. Sebagai pembanding, Republik Rakyat China (RRC) yang pada 50 tahun lalu sama miskinnya dengan Indonesia kini jauh lebih maju dan sejahtera.
"Untuk itu, yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin petarung yang sangat ahli di bidang ekonomi, yang mampu mengelola utang negara, meningkatkan kemandirian tanpa menambah utang, dan mampu melonjakan pertumbuhan ekonomi sampai 7 hingga 9 persen," pungkasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: