Hantu komunis itu semakin menakutkan, ketika Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk menonton kembali Film G 30 S PKI. Entah apa yang ada dalam benak pikiran Panglima TNI kita, sehingga muncul ide mewajibkan jajarannya menonton film tersebut. Padahal isi dalam film tersebut tidak sepenuhnya benar, karena dibuat oleh rezim Orde Baru yang tengah berkuasa ketika itu.
History has been written by the victors. Inilah adagium yang konon pertama kali dikemukakan oleh Winston Churchil yang mendominasi asasi modern dan post modern mengenai natur dari sejarah.
Pro dan kontrapun bermunculan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) termasuk yang menolak pemutaran film tersebut ditonton oleh anak-anak SD dan SMP. Sebab tayangan dalam film tersebut banyak mengandung unsur kekerasan yang tidak layak ditonton oleh anak-anak. Tapi instruksi Panglima TNI kepada jajarannya jalan terus. Beberapa daerah yang mengadakan nonton bareng (nobar) film tersebut bahkan diputar di tanah lapang, ditonton oleh semua kalangan tak terkecuali anak-anak. Padahal film tersebut ditujukan untuk usia remaja, bukan anak-anak. Bayangkan anak-anak nonton film yang mengandung unsur kekerasan tanpa didampingi orang tuanya, tentu ini sangat memprihatinkan.
Jika film tersebut dimaksudkan agar generasi muda mengetahui dan memahami sejarah bangsa, kenapa harus dengan nonton film saja? Bukankah di negeri ini ada institusi pendidikan, mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi. Kenapa Panglima TNI tidak menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk bersinergi mengajarkan sejarah perjuangan bangsa yang komprehensif secara baik dan benar kepada seluruh generasi muda?
Jika mengacu kepada strategi menyampaikan pesan dalam Al Qur’an, Allah menggunakan kata
basyiran (kabar gembira) dan
nadziran (ancaman). Menariknya, pesan yang disampaikan Allah selalu mendahulukan kabar gembira dari pada ancaman. Ketika menyampaikan kabar gembira, Al Qur’an menggunakan kabar
basysyara-yubassyiru yang dalam gramatika Arab mengandung arti berulang-ulang. Namun ketika menyampaikan ancamana, Al Qur’an menggunakan kata
andzara-yundziru yang mengandung arti sekali saja.
Artinya, dalam menyampaikan pesan, Allah selalu membangun situasi informasi yang positif, didominasi oleh kabar gembira, bukan kabar yang merepotkan (Amalee, 2017).
Ancaman dan peringatan memang ada dalam Al Qur’an, tapi tidak dominan. Untuk mengubah perilaku manusia, pendekatan paling banyak diterapkan Al Qur’an adalah -modeling, memberikan contoh yang baik untuk ditiru. Itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw menjadi suri tauladan yang baik (uswatun hasanah), baik dalam ucapan maupun perbuatan (QS. Al Ahzab ; 21). Yaitu dengan mengangkat sosok-sosok teladan yang inspiratif dan mencerahkan umat. Karena itu, lebih dari sepertiga isi Al Qur’an adalah kisah.
Dalam dunia periklanan, pendekatan menakut-nakuti kini mulai ditinggalkan. Konsumen yang makin kritis, membuat iklan-iklan gaya lama tak efektif. Dalam studi The Ethicalilty of Using Fear for Social Advertising, Damien Arthur dan Pascale Quester mengungkap bahwa iklan-iklan yang manakut-nakuti setidaknya memiliki tiga masalah besar; 1). Menyebarkan depresi pada audiens, 2). Seringkali pesan inti dari iklan malah tidak tertangkap oleh audiens, 3). Iklan jenis ini menunjukan rendahnya kepekaan sosial. Karena itu, sekarang kita sering melihat iklan-iklan yang lebih inspiratif, positif dan inspiratif (Amalee, 2017).
Idealnya, mengajak generasi muda untuk menonton film sejarah juga dilakukan dengan tuntunan yang baik bukan dengan akrobat politik yang bisa kontra produktif dengan ajakan untuk menonton film tersebut. Apalagi, isi film G 30 S PKI oleh sebagian kalangan menampakkan propoganda rezim Orde Baru. Sehingga tidak semua orang sependepat dengan isi yang terkandung di dalamnya.
Di sinilah pentingnya tuntunan yang baik dari para pemimpin negeri ini dalam mengajak kepada kebaikan. Dalam kaidah fiqh disebutkan
apa yang lebih banyak perbuatannya, tentu lebih banyak keutamaanya. Itulah sebabnya rakyat butuh tuntunan nyata dalam bentuk perbuatan baik yang bisa menjadi tontonan, bukan cuma tontonan yang justru bisa menjadi tuntunan yang memuakkan. Wallahualam.
[***]
Penulis adalah Direktur Eksekutif Al Wasath Insititute dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia
BERITA TERKAIT: