Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI terus menyelidiÂki sindikat penyebar ujaran kebenÂcian di media sosial oleh kelompok Saracen. Penyidik mulai menyelidiki pemesan konten kebencian kepada Saracen. "Kami masih mendalami soal itu," kata Kepala Subbagian Operasi Satuan Tugas Patroli Siber Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Ajun Komisaris Besar Susatyo Purnomo.
Sejauh ini, menurut Susatyo, pemesan adalah orang-orang yang dikirimi proposal oleh kelompok Saracen ini. Untuk mendapatkan pesanan, kelompok ini membuat proposal yang akan disebarkan keÂpada pihak-pihak tertentu.
Ia mengatakan sejumlah organÂisasi kemasyarakatan dan lembaga disebut menerima dan memesan jasa ujaran kebencian kepada Saracen. Di dalam proposal tersebut telah termuat harga paket dan konten ujaran kebencian yang akan disebarkan. Jika harga disepakati, konten yang sudah disiapkan itu akan diunggah melalui akun-akun yang dimiliki Saracen.
Menurut Susatyo, unggahan terseÂbut biasanya akan terus diunggah Saracen hingga beberapa bulan sesÂuai dengan kesepakatan. "Biasanya hingga enam bulan. Unggahan-unggahan berkonten negatif itu pun akan membanjiri media sosial hingga menjadi viral atau sesuai dengan keinginan pemesan," ungkapnya.
Di dunia maya bahkan bermuncuÂlan informasi terkait pengguna jasa Saracen dengan parpol tertentu. Tak hanya itu, grup medsos yang kerap menyebarkan berita hoak dan Sara ini juga disebut-sebut memiliki hubungan erat dengan elit dari parÂpol tertentu.
"Semoga saja pihak-pihak yang telah menggunakan jasa saracen segera di publikasikan," harap akun @DWC_1111.
"Tahun depan sdh PILEG. Mari jgn pilih CALEG dr Parpol yg duÂkung Intoleran, CALEG dr Parpol yang membekingi Saracen. Agar NKRI tetap terjaga," ajak akun @ fajri_lacek1.
"Mudah2an partai pengguna saraÂcen di diskualifikasi alias dibubarÂkan. Polisi hrs berani apapun taruÂhannya demi tegaknya hukum di NKRI," ujar akun @SNatapraja.
"Kalau ada partai politik atau orang partai itu terlibat saracen BuBarkan!," kata akun @suryapaÂtradaha.
"DATA& FAKTA yang akan membuktikan siapa saja dan partai apa saja di balik SARACEN. Itu juga kalau POLRI "berani" dan Profesional." cuit akun @akusatria71.
"Partai yg dsudutkn kana saracen?y ntr silahkn partai yg dtuduh tersebut lakukan bantahan dan tempuh jalur hukum, jgn diam z, biar rakyat yang mnilai," cuit akun @ HengkyAbeng.
"Semoga masyarakat dpt menilai Partai Kelompok Saracen utk 2018 bukan partai yg layak disebut partai amar ma'ruf nahi munkar," kicau akun @Nak_iwan.
"Justru parpol yg menebarkan permusuhan dan niat "kekuasaan ta'alla" adalah partai penebar keÂmunkaran dan penistaan thd agama yg sesungguhnya," kata akun @ PurbaSr.
"#saracen? SMua org bs tebak dari parpol mana yg danai #saracen. Mrka adlh kawanan yg g pnya repuÂtasi tpi haus kuasa!," kicau akun @ suwantobyway84.
"Kalau tdk merasa ada hubungan apapun dg Saracen tenang saja bro. Partai kan macam-macam. Ada parÂtai besar, partai kecil, partai ganda, partai tunggal...," ledek akun @ DjokoOne
"Kelompok2 dan partai apa dibelÂakang Saracen tidak mengherankan. Dari dulu menebar kebencian dan SARA demi nafsu politik mereka," tulis akun @inyongmanise.
Akun @SamuderaIndone1 menÂgaku sudah bisa menebak partai mana yang menggunakan jasa Saracen ini. "Masyarakat sdh bisa menebak utk kepentingan parÂtai mana saracen dibuat, semoga masyarakat menghukum partai trsbt dgn tidak memilihnya," kata akun @ SamuderaIndone1.
"Polri hrs cepat dapatin nama pihak yg jembatani pengguna jasa dan SARACEN, lalu amankan org tsb. bisa2 ada kasus bunuh diri mendadak lagi," timpal akun @tak_viri.
"Yg menarik dr saracen bukan siapa mereka, tp siapa yg pakai jasa mereka dan apakah akan ikut terbongkar juga," cuit akun @ SuryoWK.
Ketua Komisi Informasi Dewan Perwakilan Rakyat Abdul Kharis Almasyhari meminta masyarakat wasÂpada pasca-tertangkapnya kelompok Saracen, sindikat penyedia jasa konten kebencian. Menurut dia, kewaspadaan perlu apalagi menjelang tahun politik pada 2018 dan 2019.
"Saya yakin masih banyak kelomÂpok-kelompok seperti Saracen yang belum tersentuh, apalagi menjelang Pilkada 2018 dan Pemiu 2019", kata Abdul Kharis.
Menurut pengamat politik Ray Rangkuti, polisi tidak cukup hanÂya mengungkap anggota sindikat Saracen saja. Tapi juga para pengÂguna jasa mereka yang disebut-sebut membayar kelompok itu untuk memproduksi isu SARA atau hoax demi kepentingan politik.
"Harus diungkap siapa yang perÂnah menggunakan jasa mereka. Itu harus dibongkar habis oleh aparat kepolisian," kata Ray.
Dengan begitu, lanjut Ray, masyarakat dapat menilai dan waspada terhadap pihak-pihak yang berpoliÂtik menggunakan isu SARA dan hoax. "Perlu diungkap sehingga ada
warning 'orang ini main politik pakai SARA'," ujarnya.
Polisi menyebut kerja sindikat Saracen dalam menyebarkan ujaran kebencian dan hoax mengancam keuÂtuhan negara. Polisi akan mengusut tuntas dan menemukan tersangka baru dari kasus tersebut. ***