Hadir sejumlah narasumber dalam acara itu, seperti KH Ahmad Imron (Waketum DPP IPI), Dr. Desvian Bandarsyah (Dekan Uhamka), Dr. Syaiful Rahim (Ketum Fonas Bhineka Tunggal Ika) dan Prof. Zaenal Arifin (Guru Besar HTN).
Ketua Deklarator LKPM Riyan Hidayat, menjelaskan bahwa pasca memproklamirkan kemerdekaannya, Indonesia merumuskan landasan dan aturan untuk bisa menjadi negara yang berdaulat.
Tercatat, lanjut Riyan, ada beberapa badan yang dibentuk untuk merumuskan falsafah dan tujuan berbangsa dan bernegara dengan membentuk BPUPKI dan PPKI dengan tugas khusus membuntuk dasar negara.
"Sejarah juga mencacat pasca terbentuknya dasar negara juga terjadi tarik ulur kepentingan masih-masing kelompok namun para faunding father kita dengan alasan persaudaran, persatuan dan kesatuan kita dapat diselesaikan dengan bijaksana dan pancasila dapat menjadi konsensus bersama," terang Riyan.
saat ini, pasca tragedi 1945/66, kini muncul tanda-tanda (upaya) membangkitkannya keinginan kelompok tertentu untuk mengganti paham Pancasila dan UUD 45 dengan Khilafah Islamiyah yang diusung Hizbuz Tahrir Indonesia (HTI).
"Kita perlu antisipasi paham-paham yang dapat memecah belah bangsa dengan kemunculan isu sara dan paham menyimpang dari konsensus bersama yang sudah dalam tahap bahaya hal ini bisa di lihat dalam realita kehidupan sehari-hari. Berbagai gerakan diciptakan untuk merebut hati dan “suara rakyat". Mereka sepertinya ingin membangun kembali paham anti NKRI dengan menggunakan nama lain," jelasnya.
Riyan melanjutkan, paham kebangsaan saat ini sangat penting untuk menegakkan serta menguatkan kembali karakter bangsa yang sedang tercabik.
Pemahaman kebangsaan mestinya dijadikan sebagai platform bersama dalam menegakkan karakter serta kemandirian bangsa sehingga Indonesia mampu bangkit untuk menggapai kemajuan dan kesejahteraan.
"Nilai luhur hidup berbangsa dan bernegara yang terekam dalam kebangsaan tersebut harus diaktualisasikan kembali, sehingga pemuda dapat menemukan kembali etosnya di tengah gejolak sosial yang makin kompleks sekarang," jelasnya.
Segmen yang perlu di ingatkan kembali terkait paham kebangsaan adalah para pemuda sebagai generasi bangsa, jangan sampai pemuda lupa akan sejarah dan pondasi bernegara dan bermasyarakat yang dikarenakan oleh derasnya arus globalisasi dan paham dengan gerakan serta propaganda yang tidak bisa dibendung.
"Semua pihak harus sadar bahwa ini adalah tanggung jawab bersama untuk menumbuh kembangkan paham kebangsaan serta ingat perjuangan para pejuang kita.
[sam]
BERITA TERKAIT: