Prabowo-AHY 2019?

Jumat, 28 Juli 2017, 03:50 WIB
Prabowo-AHY 2019?
Prabowo-AHY/Net
SAYA sudah menulis ini minggu-minggu lalu, tapi belum saya selesaikan krn masih terlibat diskusi-diskusi lainnya. Tapi kacamata psikologi yang diarahkan pada fenomena Pilkada DKI Jakarta 2017 mempertajam momentum itu. Beberapa hari kemudian, beberapa media online merilis berita senada karena ada fenomena yang terjadi: Pertemuan Prabowo-SBY.

Awalnya karena diskusi di grup saya sedang melambungkan Gatot Nurmantyo (GN) sebagai Capres 2019, atau bisa saja menempel sebagai Cawapres seseorang. Tapi saya bilang, politik itu dinamis. "Kocokan" masih terus berlangsung hingga penetapan calon pasangan definitif pada 2019. Namun saya malah mengenyampingkan Gatot, yang banyak digadang-gadang kawan-kawan utk mendampingi Prabowo. Saya bilang, jangan heran kalo tiba-tiba GN muncul sebagai Cawapres-nya Jokowi.

Para fans GN di grup rada 'sewot': Bagaimana kalkulasinya?

Bagi saya, GN itu tentara islami yang nasionalis, pancasilais, NKRI, dan seterusnya. Tidak ada yang ragu. Saya pribadi senang saja GN jadi Presiden. Tapi bukan rahasia bahwa banyak jenderal, baik di TNI maupun Polri punya kedekatan dengan Tommy Winata (TW) yang merupakan lapisan pendukung rezim Jokowi sekarang.

GN bisa jadi Capres sendiri, punya kapabilitas personal. Tapi dalam ranah politik, apa ia siap? Siapkah ia menghadapi Presidential Threshold 20 persen? Apakah ia mau pensiun dini sekarang lalu membentuk partai atau masuk partai? Tidak genap waktu dua tahun kalau ia mau melakukan itu.

Lalu, bagaimana kalau GN ditawari jadi Cawapres-nya Jokowi? Dibujuk dengan kata-kata manis "mari bersama memperbaiki negeri"? Patriot mana yang tidak mau memperbaiki negeri? Berada di kursi level kepresidenan, banyak hal yang bisa dilakukan GN, itu pikiran yang bisa berkembang, lewat jalur manapun. Dia bisa berbuat banyak dengan menjadi Wapres, meski ikut Jokowi. Idealnya, GN bisa berpikir "membemperi" Jokowi agar berbuat lebih baik lagi bagi negeri ini pada periode keduanya. Maka pada 2024, posisi GN sudah semakin kuat untuk melaksanakan gagasan kepemimpinannya sendiri.

Bagi Jokowi, citra publik GN yang baik bisa menjadi vitamin bagi kekuatannya yang cenderung surut, selain daya dukung para partai pengusung - serapuh apapun. GN adalah adalah simbol kepemimpinan Islami yang baik untuk meraup suara tambahan dari massa mengambang ber-KTP Islam yang bahkan berafiliasi dengan "gerakan 212". GN bisa menjadi jembatan memulihkan hubungan baik dengan kelompok Islam dan berkampanye tentang sebuah "Jokowi yang lebih baik".

Sampai di sini, tentu perlu dicatat: Kocokan masih terus berlangsung, "Belanda masih jauh", jadi belum tentu GN dengan Jokowi. Itupun belum memperhitungkan bila terjadi "kiamat politik" pada Jokowi yang membuatnya terpental sebelum kontestasi.

Nah, bagaimana dengan kubu seberangnya? Dengan masih merujuk pada pertarungan 2019 akan berpusat pada kubu Jokowi dan Prabowo, yang jadi pertanyaan, siapa Cawapres Parbowo? Tentu, era Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa sudah lewat. Dan orang menggadang-gadang GN menjadi Cawapres Prabowo. Meski banyak pula yang menyebut-nyebut Yusril Ihsa Mahendra (YIM) hingga TG M Zainul Majdi, yang sekarang menjabat Gubernur NTB.

Tapi, memasangkan GN, YIM hingga Zainul Majdi berarti hanya mengkalkulasi "power index" Gerindra, PKS plus PAN yang berjumlah 26 persen. Memang lolos. Tapi kalo hanya Gerindra + PKS hanya berjumlah 18,7 persen, tidak lolos. Itu mengambil skenario pahit, karena PAN sering diejek "Pan die suka kesono kemari", maka siap-siap PAN jadi anak labil. Meski PAN juga galau kalau cuma bermodal 7,5 persen. Mesti ikut koalisi.

Padahal, ada power lain yang bernama Partai Demokrat dengan kekuatan 10,1 persen.

Sebelum ada mekanisme Presidential Threshold - meski sekarang digugat di MK, Demokrat sudah menargetkan masuk Istana secara bertahap mulai 2019. Itu normatif saja. Partai mana sih yang nggak bercita-cita begitu? Namun kalkulasi Demokrat terhalang Presidential Threshold. Harus berkoalisi. SBY nggak bisa menyanyi solo "I did it My Way".

Jadi, dibanding Prabowo-GN, saya lebih suka mencermati Prabowo-AHY. Kita bahas aspek personal dulu; Prabowo-GN cenderung sama sebangun. Prabowo sudah jelas matang. Bahkan arif dan “menggemaskan”. Kita yang mendukung beliau pada 2014 kadang jengkel karena Prabowo tidak mau smash keras ke Jokowi. Terlalu halus dalam manuver politik berhadapan dengan Jokowi. Terlalu menunjukkan kenegarawanannya. Tapi okelah. Dalam posisi di kepresidenan, pandangan politik Prabowo akan menjadi sandaran bagi kebijakan dasar negara. Sementara Gatot, juga punya kepribadian halus dan arif bijaksana. Saya pribadi kurang suka dengan chemistry ini. Kepribadian itu harus berbeda, meski visi misi sama, sehingga bisa saling melengkapi. Sementara AHY, energinya menunjukkan semangat. AHY bisa membantu Prabowo dengan gesit menggebrak sana-sini yang gak beres. Chemistry seperti itu yang diperlukan.

Bagaimana tinjauan marketing-nya? Prabowo sudah punya pasar sendiri. Bukan hanya partai pengusung seperti Gerindra dan PKS (atau plus PAN), tapi juga kelompok santri hingga akar rumputnya. Dukungan terhadap Prabowo bertambah di tingkat akar rumput, termasuk dari gelombang "barisan rakyat sakit hati" yang ditindas dan dimiskinkan Jokowi selama 3 tahun terakhir periodenya (belum tambah 2 tahun lagi). Belum lagi gelombang rakyat yang sadar bahwa praktik ideologi dan bernegara Jokowi ternyata tidak sesuai dengan yang mereka pikirkan sebelumnya.

Prabowo bukan santri. Tapi jiwanya santri. Makanya jangan heran relasinya dengan kelompok santri kuat, termasuk gelombang "212" yang sudah terang-terangan berseberangan dengan Jokowi. Tujuh juta suara dari "212" itu signifikan, belum lagi diperkuat gelombang-gelombang berikutnya.

GN memang makin popular, tapi pasar loyalnya masih mengambang. Sementara pasar “santri”nya sudah berhimpit dengan Prabowo. Tanpa GN, Prabowo sudah bisa meraup suara kelompok santri.

Suara Demokrat pada 2009 masih 20,8 persen, anjlok menjadi 10,1 persen pada 2014 dengan segudang masalah. Itu untuk legislatif. Pertanyaannya, bagaimana kontribusinya pada Pilpres?

Dianggap mengambang, meski cenderung berpihak pada Prabowo, suara Demokrat pada praktiknya "bocor". Modal 10 persen itu tidak efektif untuk mendukung Prabowo, seperti halnya Golkar menyetor modal 14 persen yang juga “bocor”.

Kenapa suara Demokrat tidak efektif pada 2014? Karena 2014 adalah pertempuran Prabowo vs Jokowi, bukan SBY vs Jokowi. Aspirasi suara yang bisa dihimpun SBY kehilangan figur di pentas.

Suara untuk SBY sebenarnya lebih besar ketimbang suara suara Legislatif Demokrat yang 10 persen, itu karena “brand” SBY bisa lintas-faksi. Jadi, kalau suara SBY dipulihkan dan dihimpun kembali lalu dtumpahkan kepada AHY, hasilnya signifikan.

Hitunglah suara Golkar ke Jokowi. Tapi, itu tidak efektif, apalagi di tingkat akar rumput. Belum lagi barisan “Golkar muda” yang mulai berlawanan dengan kubu Setnov, pasti bocor. Golkar mah juara kalau soal bocor di tingkat menengah ke bawah.

Ada fenomena untuk menguji ini pada Pilkada DKI, di mana suara mengambang yang cenderung Jokower, biasanya secara alamiah menjadi Ahoker, namun terpecah karena secara mencengangkan mendukung AHY. Kemudian, pada tahap awal, orang selalu dihantui pertanyaan, apa AHY tidak terlalu muda dan hijau dalam mengusung peran pada sebuah manajemen penyelenggaraan negara?

Jangan lupa, pemilih SBY berarti pemilih AHY. Dan SBY pasti mengerahkan segala sumber dayanya untuk AHY. Sementara, AHY sebenarnya sudah membentuk pasar sendiri yakni kaum muda yang tidak terlalu militan dalam berpolitik tapi perlu figur politik baru. Pilihan itu diserap oleh AHY. Pertanyaannya dari mana?

Salah satunya dari para pemilih baru dan pemilih Jokowi dari kalangan generasi muda. Generasi muda sudah mencoba Jokowi pada 2014. Seperti halnya trend gaya hidup, mereka cepat beralih pada tawaran “produk” lain yang lebih segar. Seperti halnya produk instan, Jokowi pun bisa cepat layu dan lebih cepat tidak laku. Contoh, kita ragu apakah pada 2019 Jokowi masih bisa menjual “kesederhanaannya” berbaju seratus ribu rupiah naik bajaj kepada generasi muda-meski faktanya hidup semakin susah. Kita ragu kampanye “kesederhanaan” itu efektif masuk akal bagi generasi milenial. Sementara AHY yang lebih muda, segar, tentara ganteng bisa memikat dengan harapan dan ide-ide segar dan maju dalam bernegara.

Namun, seperti halnya para fans GN, YIM, atau Zainul Madji, ini adalah aspirasi rakyat yang belum tentu menjadi fakta politik dalam sistem perwakilan. Saya sendiri cenderung mengupasnya berbekal atmosfir batin antara Prabowo dan SBY dalam dialektikanya dengan kelompok pendukung lainnya seperti PKS, PAN, hingga kelompok santri dan nasionalis. Kelak sain tentang elektabilita akan menjadi alat bantu-bisa mendukung atau mematahkan- dalam keputusan politik sistem perwakilan. [***]

A. Gener Wakulu
Penulis adalah mantan wartawan dan aktivis kajian Sajadah Unhas

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA