Akademisi dari King Fadh University of Saudi Arabia, Sumanto Al Qurtuby menjelaskan HTI merupakan organisasi penghayal terberat di dunia. Pasalnya Hizbut Tahrir sebagai cikal bakal HTI menginginkan adanya idiologi islamisme di negara-negara timur tengah.
Namun keinginan tersebut tidak terwujud lantaran rezim pemerintahan di kawasan timur tengah lebih memilih idiologi liberalisme nasionalisme dan tidak menggunakan ideologi islamisme. Selain itu, kekecewaan atas kekalahan Arab oleh Israel juga menjadi salah satu faktor lahirnya Hizbut Tahrir.
"Karena frustasi, idiologi islam liberal di negara di timur tengah dan frustasi kekalaah Arab dari Israel, mereka mendirikan Organisasi yang menjadi partai Hizbut Tahrir yang berusaha untuk melakukan revitalisasi terhadap semua sistem politik," ungkap Sumanto dalam diskusi bertajuk "Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia" di Auditorium Badan PPSDM Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Sabtu (22/7).
Sumanto menambahkan disisi lain pemikiran pendiri Hizbut Tahrir Taqi al-Din al-Nabhani tidak diterima oleh negara-negara timur tengah lantaran dianggap membawa misi baru untuk mengganti struktur sistem politik dan mengganti pemerintahan yang sudah terbentuk karena dianggap tidak islami.
"Di Arab saudi dilarang dan berbagai macam negara di Arab dan timur tengah, karena ideologinya dianggap bertentangan dan membahayakan tatanan struktur sosial, politik yang ada di kawasan. Tidak hanya menentang ideologi, tapi karena pendiri Hizbut Tahrir ingin membangkitkan kembali dinasti, yang dulu pernah berkuasa di Oman di abad 11 hingga 13," ujarnya.
Menurut Sumanto, banyak masyarakat tertipu dengan lambang keislaman yang dibawa Hizbut Tahrir. Dibalik lambang tersebut, Hizbut Tahrir merupakan gerakan politik yang berujuan politis yakni mengganti pemeritahan.
"Hizbut Tahrir sering klaim sebagai kelompok keagaman yang hanya berdakwah itu omong kosong. Hizbut Tahrir bukan gerakan dakwah. Hizbut Tahrir itu gerakan politik, itu partai politik dan tidak menyebarkan masalah keislaman. Tapi sayangnya banyak masyarakat yang tertipu. Kalau sudah ada simbol islam langsung mengikuti," demikian Sumanto.
[san]
BERITA TERKAIT: