"Saya bilang kalau saya jadi Sri Mulyani, saya tidak akan pernah meningkatkan pendapatan pajak di tengah yang namanya perekonomian sedang lambat," ujar Noorsy kepada
Kantor Berita Politik RMOL di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (13/7).
Pola berpikir Noorsy justru kebalikan dari Sri Mulyani. Alih-alih meningkatkan pendapatan pajak dengan membebani para petani tebu PPN 10 persen, dia malah ingin memberikan insentif atau subsidi kepada para petani. Selain itu, dia juga akan menurunkan semua target perpajakan.
"Supaya terjadi dorongan peningkatan ekonomi. Itu cara saya berpikir terbalik," jelasnya.
Noorsy kemudian mengaku pernah mengatakan langsung kepada Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Mardiasmo bahwa apa yang dilakukan pemerintah saat ini, dengan membebani pajak kepada siapa saja itu sama saja dengan berburu di kebun binatang.
"Dengan mengenakan (pajak) berburu ke rekening di bawah Rp 200 juta, tadinya Rp 100 juta, sekarang dibikin Rp 1 miliar, itu namanya berburu di kebun binatang. Kalau saya nggak akan berburu di kebun binatang, saya akan berburu di tempat lain," imbuhnya.
Kalau pun ingin mengenakan pajak kepada pemilik rekening bank, Noorsy memilih untuk sejalan dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"LPS bilangnya yang saya jamin hanya di atas Rp 2 miliar. Itu artinya yang boleh saya uber di kebun binatang hanya mereka yang jumlahnya di atas Rp 2 miliar. Di bawah itu saya nggak kenakan pajak," pungkas Noorsy.
[rus]