Perbedaan pendapat ini terjadi saat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi pembicara dalam talkshow "Rosi" yang tayang di Kompas TV, Kamis (4/5) malam. Gatot menyebut, upaya makar tidak akan mungkin dilakukan kelompok Islam untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Jokowi. Dia juga meyakini aksi-aksi yang dilakukan tidak didompleng siapapun.
Bahkan, dengan raut wajah dingin dan sedikit senyum, Gatot mengaku tersingggung dengan pertanyaan presenter Rosiana Silalahi yang mempertanyakan upaya kudeta dalam aksi Bela Islam. "Kudeta Presiden Jokowi? Saya agak tersinggung dikatakan seperti itu, karena saya sebagai umat Islam juga," selorohnya.
Gatot menegaskan, para kiai dan ulama adalah motor perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka bergerak bersama santri dan masyarakat, gotong royong. Para ulama dan rakyat berjuang merebut kemerdekaan sebelum ada TNI. Karena itu, tidak mungkin umat Islam menghancurkan negara. "Apakah sejak perjuangan merebut kemerdekaan yang mayoritas adalah umat Islam, kemudian mempertahankan kemerdekaan umat Islam, kemudian umat Islam akan merusak negara ini? tidak mungkin. Buktinya, 212, damai, aman, tertib," tegas Gatot.
Dia menyebut, upaya makar itu sebagai hoax untuk menakut-nakuti masyarakat Indonesia. Gatot berpesan agar setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat jangan dicurigai sebagai aksi yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah. "Kalau ada demo, jangan dianggap makar. Pasti demo akan dilakukan dengan kedewasaan masyarakat salurkan aspirasinya, dan itu sah-sah saja," imbaunya.
Nama Gatot disebut jurnalis asing Allan Nairn dalam artikel investigasinya turut andil dalam upaya kudeta terhadap Presiden Jokowi. Artikel itu pertama kali muncul di media online Amerika Serikat, the Intercept, kemudian disadur dalam bahasa Indonesia dan dimuat oleh media online Indonesia, Tirto.id.
Terpisah, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto enggan mengomentari pernyataan Gatot. "Tanya Panglima saja itu, ya," ujar Setyo. Dia memastikan, Polda Metro Jaya tetap melakukan proses penyidikan kasus dugaan makar itu.
Untuk diketahui, polisi menangkap beberapa orang sebelum aksi bertajuk "Bela Islam" dilakukan. Penangkapan pertama terjadi pada 2 Desember 2016, di mana aksi Bela Islam 212 digelar. Saat itu polisi menangkap Ahmad Dhani, Eko, Adityawarman, Kivlan Zein, Firza Huzein, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, Jamran dan Rizal Kobar. Penangkapan kedua dilakukan 30 Maret 2017. Penangkapan dilakukan menjelang aksi damai 31 Maret atau yang lebih dikenal 313. Kali ini yang ditangkap adalah Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath dan empat orang lain berinisial ZA, IR, V, dan M.
Buntut perbedaan pendapat ini, Menkopolhukam Wiranto akan memanggil Panglima TNI dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. "Nanti akan saya kumpulkan untuk menjawab pertanyaan kamu," kata Wiranto di Jakarta, Sabtu (6/5).
Pengamat intelijen dan militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati mengingatkan, jangan sampai Panglima TNI dan Kapolri dibenturkan. "Pihak intoleran sedang lakukan penggalangan (kekuatan), termasuk upaya adu domba," ujar Nuning, sapaan akrab Susaningtyas kepada
Rakyat Merdeka, tadi malam. Kini, NKRI sedang mengalami cobaan. Jadi, semua pihak harus bersatu menjaga NKRI, Pancasila, dan UUD 1945. Para pemangku kebijakan jangan mudah terpancing. "Saya lihat TNI-Polri solid. Mereka harus tetap solid, jangan mau dibenturkan," imbau Nuning. ***
BERITA TERKAIT: