Kapolda Di Jawa & Sumatera Harus Larang Pengerahan Massa Ke Jakarta

Perintah Kapolri Jelang Pilgub Putaran Dua

Selasa, 18 April 2017, 09:43 WIB
Kapolda Di Jawa & Sumatera Harus Larang Pengerahan Massa Ke Jakarta
Foto/Net
rmol news logo Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan seluruh jajaran Kapolda di Jawa dan Sumatera untuk mengeluarkan larangan pengerahan massa dalam jumlah besar jelang pen­coblosan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

"Saya sudah perintahkan Kapolda-Kapolda, baik Kapolda Lampung di Sumatera untuk melarang dan membuat maklu­mat menindaklanjuti maklumat Kapolda Metro Jaya. Kapolda lain harus mengeluarkan maklu­mat melarang," katanya Tito usai rapat koordinasi tingkat menteri di Kemenko Polhukam, Jakarta, kemarin.

Saat ini, lanjut Tito, kepoli­sian sudah menerima informasi terkait rencana pengerahan mas­sa untuk mengamankan TPS saat putaran kedua Pilkada DKI.

"Kalau berangkat ke Jakarta dalam rangka pilkada atau poli­tik bukan ibadah, saya perintah­kan Kapolda gunakan diskresi dan amankan. Periksa mereka mau ke mana," tegas bekas Kapolda Metro itu.

Menurut Tito, hal tersebut justru akan memberikan kesan intimidasi kepada para pemi­lih, baik secara psikis maupun psikologis. Dalam sebuah negara demokrasi, kata Tito, pemilih harus bebas dari rasa takut.

"Ada rencana beberapa gerakan massa dari luar, dengan alasan macam-macamlah. Dari kampa­nye dan mengawasi kecurangan. Ya salah satunya tamasya (Al-Maidah). Prinsipnya, kami tidak ingin ada pengelompokan massa di TPS," jelasnya.

"Karena sistem pengamanan di TPS punya pengamanan send­iri. Ada Panwaslu, Bawaslu, ada saksi, dan pengamat independen serta media," tambahnya.

Tito menegaskan, saat penye­lenggaraan pilkada, kehadiran kelompok massa besar pasti akan memberikan kesan intimidasi.

Selain itu, penjagaan TPS oleh kelompok massa akan memen­garuhi prinsip kebebasan dan kerahasiaan.

Tito menjamin polisi akan melakukan pengamanan secara ketat di seluruh TPS ada. "Polri sendiri akan all out, Kapolda sa­ya sudah perintahkan membuat maklumat untuk melarang massa masuk ke Jakarta," ujarnya.

Secara khusus, Tito melarang aksi massa yang mendatangi TPS. Sebab, dikhawatirkan massa akan menghadirkan in­timidasi terhadap pemilih.

"Kalau jalan-jalan boleh. Tapi untuk datang ke TPS apalagi da­lam jumlah besar, bisa membawa intimidasi psikologis, itu sudah kegiatan politik. Itu akan kami tindak tegas dengan diskresi yang ada," pungkasnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA