Masa Tenang, Warga Diimbau Tahan Godaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Minggu, 16 April 2017, 12:28 WIB
Masa Tenang, Warga Diimbau Tahan Godaan
Foto: Repro
rmol news logo Pilkada DKI Jakarta putaran kedua memasuki masa tenang pada hari ini (Minggu, 16/3).

Walau dilarang keras melakukan segala bentuk aktivitas kampaye, bahkan yang menjurus, misalnya mempersuasi warga untuk memilih salah satu calon tertentu, tetap dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab melakukan berbagai kecurangan, terutama praktik politik uang.

"Jadi masa tenang seperti ini bagi oknum-oknum yang culas menjadi momen yang paling pas membujuk pemilih agar merubah pilihannya. Cara yang menurut mereka paling ampuh adalah dengan politik uang, membagi sembako, dan memberi bantuan sosial. Godaan-godaan seperti ini bakal masif terjadi," tengarai senator Jakarta, Fahira Idris dalam siaran persnya.

Kondisi ini sesungguhnya dinilai Fahira memalukan, menginggat Pilkada DKI Jakarta menjadi perhatian nasional dan diharapkan menjadi contoh baik bagi daerah lain di Indonesia bagaimana praktik sebuah Pilkada yang jujur, adil, dan demokratis.

"Praktik-praktik kampanye yang mengarah ke politik uang dipertontonkan dengan sebegitu vulgarnya dan tanpa malu. Dan yang membuat kita miris, belum ada tindakan berarti yang diambil oleh pihak yang berwenang," ujar Fahira yang juga wakil ketua Komite III DPD.

Saat ini, menurut Fahira, satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wajah Pilkada DKI Jakarta, tinggal berada di tangan warga terutama mereka yang mempunyai hak pilih. Bermartabat tidaknya Pilkada DKI Jakarta akan sangat ditentukan bagaimana pada hari pemungutan dan penghitungan suara yang jatuh pada 19 April nanti prosesnya benar-benar berlangsung jujur, adil, dan demokratis, tanpa intimidasi, pemaksaan kehendak, apalagi aksi premanisme seperti yang sempat terjadi pada pemungutan suara putaran pertama.

"Cuma warga yang bisa memastikan semua perangkat penyelenggara dan pengawas Pilkada berlaku adil. Mari kita tunjukkan, bahwa harga diri kita tidak bisa dibeli dengan sekantong sembako," tegas Fahira.

Oleh karena itu, lanjut Fahira, partisipasi warga mengawasi proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS dari awal hingga akhir sangat diharapkan. Kerena hanya ini satu-satunya cara menjaga suara warga Jakarta sampai kepada calon pemimpin yang benar-benar dikehendaki mayoritas warga Jakarta.

"Kondisi Pilkada Jakarta ini tidak normal. Tidak ada pilihan lain, selain kita wakafkan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk menjaga suara kita di TPS masing-masing, agar sampai kepada calon yang benar-benar berhak," tutup Fahira.[wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA