Untuk itu, pemerintah melalui Kemendes PDTT akan memberikan bantuan kepada BUMDes untuk dikelola secara produktif.
"Tahun ini tiap desa diharapkan punya BUMDes. Nantinya dana desa bukan lagi jadi sumber utama pembangunan desa, tapi hanya stimulus. Sementara desa tersebut punya pendapatan lain yang digarapkan suatu saat bisa lebih besar dari dana desa," papar Eko di ruang rapat Gedung Galeri Nasional, Jakarta, Minggu (9/4).
Menteri Eko yakin melalui skema ini, dana desa mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ia mencontohkan Desa Ponggok, Klaten yang menjadi pemilik omset tertinggi BUMDes dengan total Rp 10,3 Miliar. Pada tahun 2016, Desa Ponggok membuat usaha wisata pemandian air panas dengan nama BUMDes Tirta Mandiri.
"Persoalan di desa itu kompleks sekali. Namun terbukti masyarakat desa mampu mengatasinya," beber Eko.
Lebih lanjut, ia berharap, tiap kepala daerah dapat memaparkan produk hasil masyarakatnya agar pemerintah dapat memberikan bagian alokasi dana desa.
"Contoh Pemda Manado berkomitmen untuk tingkatkan pariwisatanya. Kita langsung siapkan
direct flight dari lima mancanegara," pungkas Eko.
[ian]
BERITA TERKAIT: