Maka selanjutnya Donald Trump makin bersikeras menggunakan istilah "Islam Radikal Teorisme" termasuk pada pidato resmi kepresidenannya di bukit Capitol. Istilah "Islam Radikal Terorisme" juga digunakan oleh para pendukung kebijakan Trump menumpas terorisme kecuali justru oleh Penasehat Keamanan Nasional USA, H. R. McMaster, secara eksplisit menolak istilah "Islam Radikal Terorisme". Sebab meyakini bahwa istilah tersebut tidak tepat digunakan demi melukiskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan terorisme.
Menjelang pidato pada Sidang Paripurna U.S. Congress, McMaster menasehati Trump untuk tidak menggunakan istilah "Islam Radikal Terorisme". Seperti biasa nasehat selalu diabaikan oleh Trump yang malah menyatakan bahwa, ""Our obligation is to serve, protect, and defend the citizens of the United States. We are also taking strong measures to protect our nation from Radical Islamic Terrorism." (Tugas kami adalah melayani, melindungi dan membela warga Amerika Serikat maka kami bersungguh-sungguh melakukan apa pun demi melindungi bangsa kita dari Islam Radikal Terorisme).
Pada pertemuan dengan para anggota National Security Council, McMaster menegaskan bahwa hakikat penggunaan istilah "Islam Radikal Terorisme" adalah tidak benar sebab terorisme tidak sesuai dengan ajaran Islam. Terorisme tidak pernah dibenarkan dalam ajaran Islam sejak masa lalu sampai masa kini mau pun masa depan. Terorisme memang pernah dilakukan oleh mereka yang mengaku diri sebagai umat Islam namun sebenarnya Islam tidak pernah membenarkan apalagi mengajarkan terorisme.
Dalam sejarah peradaban umat manusia, terbukti bahwa yang melakukan terorisme bukan hanya mereka yang mengaku diri sebagai umat Islam namun juga umat agama-agama lainnya. Terorisme di Irlandia Utara dilakukan oleh umat Nasrani terhadap umat Nasrani. Terorisme terhadap umat Islam di Rachine, Myanmar dilakukan oleh mereka yang menganut agama Buddha.
Teroris yang membunuh Mahatma Gandhi adalah insan penganut agama Hindu. Tak terhitung berapa nyawa melayang akibat terorisme penjajah Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan. Pembantaian kaum Yahudi dilakukan atas perintah Adolf Hitler yang jelas bukan Muslim. Maka jelas bahwa terorisme sama sekali bukan monopoli umat Islam.
Keliru jika Presiden Donald Trump mencekal imigran dari negara-negara Islam dengan dalih mencegah terorisme di bumi Amerika Serikat. Fakta membuktikan bahwa mayoritas para pelaku terorisme pasca 911 termasuk pembunuhan massal terhadap anak-anak sekolah yang mewabah di Amerika Serikat ternyata bukan Muslim.
Sementara istilah radikal yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebenarnya bermakna secara mendasar sampai kepada hal yang prinsip, amat keras menuntut perubahan, maju dalam berpikir atau bertindak seperti yang dilakukan oleh para tokoh penentang angkara murka penjajahan dan penindasan seperti Mahatma Gandhi, Sun Yat Sen, Simon Bolivar, Jose Rizal, Che Guevara Lech Wallesa, Soekarno, Hatta, jelas kurang senonoh apabila dikaitkan dengan terorisme.
Maka memang sudah tepat dan benar bahwa McMaster sebagai Penasehat Keamanan Nasional Amerika Serikat berusaha menasehati agar Presiden Donald Trump dalam baper gelora semangat menumpas terorisme tidak menggunakan istilah "Islam Radikal Terorisme". Istilah yang benar cukup "Terorisme" saja tanpa embel-embel apapun.
Penulis adalah sosok penolak kekerasan
BERITA TERKAIT: