Sohibul Iman menilai pidaro dari Sang Rajawali berhasil membakar semangan juang kader PKS. Hal ini sebagaimana ia luapkan dalam sebuah pantun yang diposting di akun
Twitter pribadinya
@msi_sohibuliman.
"Terbang tinggi rajawali, hinggap di kutub penuh dengan es. Di Rakornas ada bang Rizal Ramli, bakar semangat kader-kader PKS," kicaunya, Rabu (8/3).
Tidak hanya itu, Sohibul juga mengakui kehebatan Rizal Ramli dalam bidang ekonomi. Atas alasan itu, ia berpendapat bahwa publik tidak salah menjuluki Rizal Ramli sebagai Rajawali.
"Bang Jali pergi ke pasar, cabe mahal terkaget-kaget. Bang R. Ramli selalu menggelegar. Tidak salah dijuluki Rajawali Ngepret," puji Sohibul.
Dalam pidato di Rakornas PKS, Rizal Ramli menyorot mazhab ekonomi neoliberal yang dijalankan pemerintahan Joko Widodo.
Rizal mengatakan, selaku partai yang lahir di era reformasi, PKS seharusnya tampil melawan sistem ekonomi yang menyengsarakan mayoritas rakyat.
Ia mengingatkan, sistem ekonomi neoliberal yang dahulu dijalankan Orde Baru adalah salah satu hal yang hendak ditumbangkan gerakan reformasi.
"Maaf, garis ekonomi PKS tidak jelas. Partai Keadilan Sejahtera tidak pernah membahas ekonomi yang mensejahterakan rakyat," kritiknya, di Hotel Bumi Wiyata, Depok.
Bahkan Rizal mengamati bahwa selama ini partai yang dipimpin Sohibul Iman itu bisa disebut sebagai pendukung garis ekonomi neoliberalisme. Kesimpulan tersebut dapat diambil bila menyimak pidato-pidato para petinggi PKS.
Mantan Menko Maritim dan Sumber Daya itu menegaskan, dukungan kepada neoliberalisme akan membawa Indonesia kembali ke bawah cengkeraman kolonialisme. Tidak akan ada negara yang sejahtera jika kesenjangan sosialnya sangat besar dan bergantung pada utang seperti yang dianjurkan para ekonom neolib.
"Ekonom yang benar itu struktural, ekonom konstitusional, tidak ekonom turun naik," tegas Menteri Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dalam pidatonya, Rizal juga mengangkat lagi istilah "ekonomi gelas anggur". Seperti bentuk gelas anggur, keadaan ekonomi yang disebutnya itu menggambarkan kekuatan ekonomi kelas menengah dan bawah yang sangat rapuh. Sedangkan di bagian atas, hanya ada sekitar 200 keluarga yang menguasai ribuan perusahaan. Ekonomi gelas anggur itulah yang menjadi jalan ekonomi Orde Baru dan dilanjutkan sampai sekarang.
Di berbagai kesempatan, Rizal berkali-kali menegaskan bahwa struktur ekonomi yang ideal berbentuk seperti piramida. Di sana, ada kelompok yang besar yang efisien, ada golongan menengah yang kuat, dan ada usaha kecil dan ekonomi rakyat yang juga efisien.
[ian]
BERITA TERKAIT: