Siapa saja pemilih tentu tidak berubah dari putaran pertama. Begitu pula tidak ada perubahan sikap dari putaran pertama dari yang tidak akan memilih Ahok-Djarot.
Para pemilih AHY-Sylvi yang bersikap untuk tidak memilih Ahok-Djarot dipastikan akan mengalihkan suaranya ke Anies-Sandi. Sedangkan untuk pemilih AHY-Sylvi yang akan mengalihkan suaranya ke Ahok-Djarot jumlahnya tidak signifikan. Rata-rata pemilih yang menolak memilih Ahok-Djarot bersikap konsisten.
Sehingga jika pada putaran kedua Ahok-Djarot menang, ini terjadi karena kecurangan.
Kecurangan dapat melalui politik uang, munculnya suara siluman atau rekayasa perhitungan suara.
Untuk menghindari kecurangan-kecurangan yang terjadi, diperlukan pengawasan di seluruh TPS yang menggelar pilkada ini.
Pertarungan Pilkada DKI pada putaran kedua ini tentu semakin panas gelombangnya di TPS-TPS. Karena pertarungan sebenarnya memang terjadi di TPS.
Perang opini, propaganda dan kampanye saat ini juga telah dimenangkan Anies-Sandi. Ahok-Djarot saat ini sedang mencari peluang untuk melakukan kecurangan baik secara formal (melalui institusi pemerintah) atau non formal (operasi di lapangan).
Di sini masyarakat harus tetap solid melawan kecurangan Ahok-Djarot. Karena mereka akan gunakan segala cara untuk menang. Tentu harus kita sambut juga dengan segala cara untuk hentikan kekuasaan Ahok-Djarot boneka taipan ini.
[***]Yudi Syamhudi SuyutiPenulias adalah aktivis pergerakan
BERITA TERKAIT: