Sekilas, museum ini terlihat sangat sederhana. Tertulis dalam bahasa Norwegia: Ibsen Museet. Berdiri dalam sebuah ruko, yang kata sang penjaga merupakan bekas salah satu kediaman Ibsen, halaman museum ini juga memajang patung Ibsen yang sedang duduk di atas batu, dengan membawa tongkat, serta dengan topi dan kacamatanya yang khas.
Henrik Johan Ibsen, begitu nama lengkap sang penulis sandiwara, penyair dan sutradara teater ini. Tokoh sastra beraliran realis sosial ini lahir pada 20 Maret 1828 di Skien Norwegia. Bila ada tokoh yang karyanya paling banyak dipentaskan di dunia setelah Shakespeare, maka Ibsen adalah orangnya. Tak heran bila pengarang Norwegia terbesar sepanjang masa ini dikenal sebagai bapak drama modern.
Drama-drama karya Ibsen penuh dengan nilai-nilai moral. Dramanya memberi pesan bahwa kebaikan akan selalu berujung pada kebahagian. Sebaliknya, kejahatan, akan berakhir dengan mengenaskan.
Karya Ibsen sudah dikenal lama di Indonesia. Drama
Allah yang Palsu, karya penulis etnis Tionghoa Kwee Tek Hoay, yang sempat dipentaskan di Batavia atau Jakarta pada tahun 1919, terinspirasi karya-karya Ibsen.
Drama ini mengisahkan tentang dua saudara. Satu orang sangat moralis dan menjunjung tinggi kehormatan diri, sementara yang lainnya sangat mengagungkan harta dan mengutamakan keuntungan pribadi.
Allah yang Palsu dalam drama ini adalah uang, yang sama sekali bukan jalan menuju kebahagiaan.
Drama Ibsen,
Musuh Masyarakat, pernah diterjemahkan oleh Asrul Sani. Drama yang mengisahkan beberapa orang di tempat dan latar belakang berbeda yang berusaha membantu masyarakat dengan membagikan informasi fakta namun malah dikucilkan masyarakat dan dimusuhi sudah dipentaskan di Indonesia berkali-kali, di berbagai tempat, seperti di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pada tahun 1991, karya Ibsen,
Samfundets støtter yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris
The Pillars of Community diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dkk. Nama Sapardi, sastrawan besar yang terkenal dengan puisi
Aku Ingin ini menggambarkan keistimewaan Ibsen.
Karya Ibsen,
A Doll’s House atau
Rumah Boneka, juga sudah dipentaskan di Gedung Kesenian Djakarta, akhir tahun 2011.
Kembali ke museum. Museum Ibsen menjadi bagian sejarah perjalanan Ibsen.
Di museum yang didominasi warna merah ini karya-karya Ibsen dalam cetakan pertama dipajang dengan sangat rapi. Pun demikian dengan pakaian, jaket, topi, kacamata dan tongkat Ibsen. Di bagian depan museum di lantai dua, juga diputar video yang mengisahkan perjalanan Ibsen.
Beberapa bagian dinding, dengan seni tulis di atas kaca yang sangat menawan, dengan pencahayaan yang tepat, tertulis sejumlah kata-kata Ibsen dalam bahasa Norwegia.
Persis di depan pintu masuk, juga dijual berbagai kaos yang bertuliskan atau bergambarkan muka Ibsen. Juga dijual buku-buku karya Ibsen, yang tentu saja dalam cetakan terbaru.
Ibsen meninggal pada 23 Mei 1906, di usia 78 tahun. Ia dikuburkan di pemakaman umum di kota Oslo. Kuburannya tepat di blok kedua, di sebelah kiri. Batu nisan kuburan ini menjulang setinggi sekitar 3 meter, dan nampak gambar palu di bagian tengah nisan yang terbuat dari batu ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: