JELANG MUNAS GOLKAR

Zainal Bintang: Golkar Harus Dipimpin Seorang Dewa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Senin, 07 Maret 2016, 08:58 WIB
Zainal Bintang: Golkar Harus Dipimpin Seorang Dewa
zainal bintang/rmol
rmol news logo . Sejarah panjang Golkar sebagai partai yang selalu dipimpin oleh Ketua Umum (Ketum) yang berkualifikasi seperti "dewa" adalah fakta yang tidak terbantahkan. Di era Soeharto berkuasa selama 32 tahun, Golkar selalu dipimpin seorang Ketum yang "dibina" oleh kekuasaan, ibarat dewa yang diutus dari langit.

"Dewa diatas dewa itu menurut saya adalah Soeharto sendiri," kata politisi senior Golkar Zainal Bintang kepada media, Senin (5/3). Menurut Bintang, kualifikasi dewa disini diartikan sama dengan "kekuasaan" atau orang yang dekat dengan kekuasaan.

Bintang yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Ormas MKGR itu, menjelaskan, selain sebagai Presiden, Soeharto juga memegang jabatan sebagai Ketua Dewan Pembina (Wanbin) Golkar. AD/ART Golkar memberi kewenangan kepada Ketua Wambin untuk dapat membatalkan keputusan yang sudah diambil DPP. "Bahkan berwenang membubarkan DPP," ujar Bintang.

Di era reformasipun, Golkar kembali dipimpin seorang "dewa" yaitu Akbar Tanjung (1998). Akbar  yang menjadi Ketum pertama di era reformasi itu, menjabat sebagai Ketua DPR RI, sebelumnya adalah Menteri Sekertaris Negara. Pendek kata Akbar di-backup oleh (dewa) Presiden BJ. Habibie.

Pengganti Akbar yang terpilih pada Munas Golkar di Bali pada tahun 2004, juga adalah seorang "dewa" yaitu Jusuf Kalla karena juga merangkap sebagai Wakil Presiden.

Terus terang, kata Bintang, seorang Ketum di Golkar yang punya jabatan yang melekat dengan kekuasaan alias semacam "dewa" adalah sosok pimpinan yang didambakan oleh seluruh kader Golkar.

"Pimpinan Golkar DPD Propinsi maupun Kabupaten/Kota akan sangat bangga apabila Ketua Umum Golkar adalah orang yang dekat dengan kekuasaan alias "dewa"," kata Bintang menambahkan.

Gonjang ganjing partai Golkar belakangan ini, menurut Ketua Koordinator Eksponen Ormas Tri Karya Golkar (EO-TKG) itu, karena jabatan Ketua Umum diperebutkan figur yang tidak berkualifikasi "dewa". "Sejak Munas Riau 2009, Ketua Umum Golkar nggak punya jabatan formal yang membanggakan kader Golkar," jelas Bintang.

Maka menjadi pertanyaan ke depan, siapakah figur Calon Ketum Golkar yang berkualifikasi "dewa" yang akan mendapat kepercayaan dari pemilik suara Golkar di daerah pada Munas yang akan datang?

Bintang mengutip pernyataan Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang mengatakan, pengurus Golkar Daerah, "tidak menginginkan Ade Komarudin (Akom) mundur dari Ketua DPR karena posisi tersebut memberikan kebanggaan luar biasa bagi para kader terutama di daerah". Bamsoet menjelaskan, posisi Akom di pimpinan legislatif itu menguntungkan bagi upaya konsolidasi partai ke depan.

"Nah, silakan dipikirkan sendiri wahai para caketum dan timsesnya," kata Bintang mengakhiri komentarnya. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA