Islam Itu Damai, Muslim Bukan Teroris

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Minggu, 31 Januari 2016, 15:59 WIB
Islam Itu Damai, Muslim Bukan Teroris
rmol news logo Agama Islam itu damai dan bukan teroris. Islam di Indonesia juga mengalami perkembangan yang luar biasa, bukan hanya kuantitas namun juga kualitas.

Demikian disampaikan Wakil Ketua dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Farouk Muhammad pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di pesantren Al Husainy Serpong-Tangerang Selatan, Minggu (31/1).

Perkembangan Islam yang semakin baik di Indonesia, menurut Farouk, tergambar dari banyaknya kegiatan-kegiatan keislaman yang diselenggarakan di berbagai daerah, baik dalam bentuk pengajian maupun tausiah. Menurut Farouk di negara non muslim-pun berdasarkan data terbaru, menunjukan pertumbuhan pemeluk Islam semakin meningkat dari tahun ke tahun.

"Islam merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa dan Amerika. Islam kini makin mendapat tempat di hati masyarakat Eropa dan Amerika. Bahkan menurut Pew Research Center, di Eropa Muslim akan mencapai 10 persen dari total populasi, yaitu 700 juta. Jika trend konversi terus berlanjut, Islam akan menjadi agama paling populer di dunia setelah tahun 2070", katanya.

Farouk merasa senang agama Islam yang hadir dengan kedamaian dan kemuliaan mencapai jumlah yang sangat luar biasa. Farouk sangat tidak setuju dengan gerakan radikal yang mengatasnamakan Isla.

"Saat ini tantangan dan tekanan terhadap umat Islam semakin kuat baik di masyarakat, dalam Negara bangsa bahkan oleh tokoh-tokoh dunia. Islam dipersepsikan dalam berbagai aksi kekerasan atau terorisme, yang salah satunya diasosikan dengan simbolnya saat ini yaitu ISIS. Padahal banyak sekali tindakan dan ajaran ISIS tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, bahkan seringkali merendahkan ajaran mulia ini dalam kenyatannya, menyakiti sesama muslim, melakukan penghancuran mesjid dan lain sebagainya. Keanggotaan ISIS pun bahkan diragukan ketulenan Islamnya", tegas Farouk.

Menurut Farouk setidaknya ada dua kerangka besar dalam fenomena tindakan radikal yang mengatasnamakan Islam.  Pertama secara internal, dimana ada sebagian umat Islam yang salah tafsir serta pemahaman keliru terhadap Al Quran dan Hadits maupun sumber referensi lainnya, yang pada akhirnya mengambil kesimpulan sempit bahwa jalan kekerasan adalah jalan terbaik dalam memperjuangkan Islam.

"Padahal dalam kenyataannya, jalan dakwah dengan Mauijatun Hasanah (keteladanan yang baik) sebagaimana diajarkan Rasullah merupakan pondasi utama dalam melakukan amar ma’ruf dan mencegah nahyi munkar," katanya.

Yang kedua secara eksternal, fenomena kemunculan ISIS digunakan tokoh-tokoh non muslim yang tidak senang menjadi sarana legitimasi bahwa Islam adalah teroris. Padahal ajaran ini mengajarkan dan memberikan keteladanan secara rinci bagaimana berinteraksi dengan sesama muslim maupun non muslim dengan sangat baik, menghindari jalan-jalan kekerasan yang tidak sesuai perintah Allah SWT.

"Alhamdulillah, umat Islam Indonesia dapat menunjukan dan memberikan keteladanan kepada umat Islam di seluruh dunia bagaimana hidup berdampingan bersama umat lain, menjadi agen utama dalam proses pembangunan Negara dan tumbuh menjadi umat yang terus produktif menciptakan amal kebaikan bagi sekitar," kata farouk di acara yang diinisiasi oleh Senator Banten, Habib Ali Alwi sebagai tuan rumah yang sekaligus pemilik Pesantren Al-Husainy di Serpong- Tangerang itu.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA