"Dalam satu tahun ini, perilaku mereka tidak mewakili rakyat," ujar Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi kepada redaksi, Jumat (2/10).
Menurutnya, wakil rakyat itu harus memperjuangkan keinginan atau cita-cita rakyat. Bukan ingin memperjuangkan kepentingan dan syahwat pribadi seperti minta penghasilan naik sebesar Rp 24 juta secara diam-diam, minta diberikan kasur empuk seharga Rp 12.5 miliar, dan minta renovasi toilet seharga Rp 14.7 miliar.
Uchok menjelaskan, permintaan fasilitas yang mewah dan megah yang diajukan dewan tidak dimbangi dengan kinerja DPR.
"Ini memprihatinkan sekali. Gaji dan tunjangan mahal, tapi prestasi dalam kerja masih minim sekali," sambungnya.
"Pada tahun 2015, kinerja legislasi jeblok sekali, tidak bisa dibanggakan. Diperkirakan Masih di bawah 30 persen. Padahal, pada tahun 2014, kinerja legislasi masih 41 persen atau menghabiskan anggaran sebesar Rp 99.5 miliar dari alokasi anggaran sebesar Rp 230 miliar," jabar Uchok.
Kemudian, lanjut Uchok, DPR dalam satu tahun ini masih seperti anak SMA, yang suka berantem untuk memperebutkan jabatan struktural pada alat kelengkapan dewan (AKD). Saling melaporkan ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) untuk saling sandera dan memangsa.
"Sehingga lupa bahwa dewan ini jabatan terhormat," tandasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: