Demikian diungkapkan RR sapaan akrab Rizal Ramli di sela-sela Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI dengan agenda Pembicaraan TK I/Pembahasan RUU tentang APBN 2016, di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Rabu, 9/9).
"Saya kira jangan
ngadu-ngadu," kata RR saat ditanya soal Dirut PLN yang minta bukti adanya dugaan praktik mafia di bisnis listrik prabayar.
Jelas RR, pada sebuah rapat, Dirut PLN mengaku akan menurunkan dan mengupayakan agar rakyat bisa dapat listrik yang lebih banyak untuk Rp 100 ribu.
"Saya minta Dirut PLN cari jalan bagaimana jangan terlalu banyak potongan. Pada waktu itu Dirut PLN menyanggupi," terang RR singkat.
RR menduga ada permainan mafia di bisnis listrik isi ulang atau prabayar yang dijalankan PLN. Pasalnya, nilai manfaat riil yang diterima masyarakat dari nominal pulsa listrik yang dibelinya hanya sekitar 70 persen.
"Mereka (masyarakat) beli pulsa Rp 100 ribu ternyata listriknya hanya Rp 73 ribu. Itu kan kejam sekali, 27 persen disedot oleh provider yang kalau boleh dibilang setengah mafia. Untungnya besar sekali," kata RR.
Menurutnya, ada permainan monopoli di PLN selaku penyedia layanan (provider) yang mengakibatkan ada kewajiban bagi masyarakat untuk beralih ke meteran prabayar. Padahal, membeli token listrik prabayar tidak semudah membeli pulsa telepon.
[ian]
BERITA TERKAIT: