Demikian disampaikan pengamat politik dari Konsep Indonesia Reserach & Consulting, Veri Muhlis Arifuzzaman kepada wartawan di Jakarta, Ksmi (2/4).
Veri melihat rentan gesekan dan kegaduhan di tubuh Demokrat bilamana SBY tidak memimpin kembali. Untuk itu SBY tidak perlu khawatir mengenai desakan dari Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat (FKPD) yang memintanya untuk tidak maju lagi di kongres mendatang.
"Kalau dukungan terus berdatangan, mau tidak mau SBY harus siap kembali dijadikan sebagai ketum. Karena akan terjadi kegaduhan jika SBY tidak bersedia maju. Lihat saja bagaimana sekarang ini forum pendiri yang keras melarang SBY kembali mencalonkan, belum lagi digoyang pihak luar," kata Veri.
Dirinya melihat jelang kongres kader mulai terbagi beberapa kelompok, kelompok pendukung SBY, pendiri, dan kelompok salah satu calon. "Tapi saya lihat paling kuat kelompok pendukung SBY yang bermunculan dari daerah, kalau pendiri hanya sebagian saja, dan kelompok calon masih malu-malu. Akan tetapi perlu juga hati-hati, karena bisa mempengaruhi kekuatan SBY bilamana tidak segera diwaspadai," tegasnya.
Lanjut Veri, pekerjaan berat SBY bilamana dipercaya kembali memimpin partai berlambang segitiga mercy itu, tidak hanya mengembalikan kejayaan Demokrat, tetapi harus mengurangi ketergantungan Demokrat kepada dirinya.
"Caranya, SBY harus mempersiapkan kader-kader terbaik untuk mampu menggantikannya dimasa mendatang. Harus dapat mengawal regenerasi agar bisa lahir generasi Demokrat yang handal dan punya idealisme terhadap cita-cita dan perjuangan partai," imbuhnya.
Sementara itu Pengurus Harian DPP Demokrat yang juga Sekertaris Fraksi Demokrat DPR RI, Didik Mukrianto mengatakan kuatnya dorongan terhadap SBY kembali memimpin Demokrat lantaran atas dasar keinginan para kader daerah.
"Keinginan kader untuk memohon kesediaan SBY sebagai ketum didasarkan kepada obyektifitas dan rasional politik bahwa saat ini SBY lah satu-satunya kader terbaik Demokrat yang mejadikan
reborn ke depan. SBY lah yang dianggap dalam mengawal lahirnya regenerasi demi terwujudnya kader-kader dan pimpinan Demokrat yang handal dan berintegritas," jelas Didik.
Menurutnya kegalaun dan kritik yang destruktif dari kader Demokrat akan terpilihnya SBY secara aklamasi dianggap kurang bijak dan tidak paham fakta dan kebutuhan organisasi. "Boleh mempunyai keinginan dan harapan tapi tentunya juga harus terukur, rasional dan obyektif. Introspeksi diri secara jujur dan tetap obyektif dalam mengukur diri menjadi modal utama politisi dalam membangun bangsa," tandas Didik.
[rus]
BERITA TERKAIT: