"Saya ingin membangun tradisi baru. Karena partai kan pilar demokrasi. Tapi fakta yang ada, partai sekarang tidak demokratis di partainya. Semua terkesan tergantung ketum," ujar Zulkifli Hasan saat ditemui di Kediaman Gubernur Maluku Said Assegaf, Ambon, Maluku (Jumat, 20/2).
Untuk mendukung cita-cita mulia itu, Zulhas menjabarkan visi misinya dalam Kongres PAN yang akan digelar di Bali pada akhir bulan ini.
Zulhas, begitu ia disapa, akan menjadikan PAN sebagai rumah besar Indonesia. Artinya semua kebijakan yang akan dilakukan PAN ke depan harus bertujuan demi kepentingan rakyat, memberantas kemiskinan, dan menghapus kesenjangan antara si kaya dan miskin.
"Program-programnya merupakan orientasi dari Indonesia. Kalau perlu pengurus nanti juga cerminan dari Indonesia, bisa dari Papua, Timor, Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan lainnya," sambungnya.
Tradisi lain yang akan dibangun adalah otonomisasi daerah. Artinya, dewan pimpinan wilayah/daerah memiliki kewenangan luas dalam mengatur partai di wilayah/daerah masing-masing. Contohnya, kewenangan dalam pemilihan kandidat yang diusung dalam Pilkada akan diberikan sepenuhnya kepada pimpinan daerah/wilayah. Dalam hal ini kapasitas Dewan Pimpinan Pusat hanya sekadar mengetahui.
"Saya menyebutnya otonomisasi. Pemerintah saja otonomi daerah, masak partai politik yang mengusung otonomi daerah tidak menjunjung otonomisasi partai," lanjut ketua MPR RI tersebut.
Visi revolusioner lainnya, adalah menghapus stigma bahwa ketua umum adalah segala-galanya di partai. Jabatan ketua umum, lanjutnya, bukan tiket otomatis capres. Maka dari itu, ia berjanji akan menggelar konvensi pencalonan presiden di PAN, jika nanti jadi ketua umum.
"Nanti kalau Allah meridhoi saya terpilih, saya akan mengadakan konvensi yang luas untuk memilih siapa capres dan cawapres. Jangan nanti parpol mendukung calon yang tidak diinginkan rakyat," tandas mantan Menteri Kehutanan tersebut.
[rus]
BERITA TERKAIT: