Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam keterangannya kepada redaksi beberapa saat lalu, Jumat (6/2).
Memang, kata Neta, hingga saat ini Samad belum jujur soal pertemuannya dengan petinggi PDIP maupun foto-foto mesra dengan beberapa wanita cantik yang muncul belakangan ini. Malahan, Samad menggunakan 'tangan' Deputi Pencegahan KPK Johan Budi untuk membantah soal foto mesra yang beredar luas di masyarakat.
"Saya berharap Johan Budi jangan mau diperalat Samad untuk menutup kebohongannya," ungkapnya.
Seharusnya, sambung Neta, sejak punya ambisi jadi cawapres Samad mundur dari KPK. Sebab saat itu Samad sudah lompat pagar jadi politisi. Akibatnya, apapun putusan Samad sudah bukan lagi sebagai penegak hukum, tapi lebih bernuansa politis, pilih kasih, dan tebang pilih berdasarkan kepentingan politiknya. Samad sudah memakai institusi KPK sebagai alat ambisi politik, dan tentunya hal ini sudah melawan aturan yang dibuat KPK sendiri.
Tapi anehnya, ada empat hal yang tidak masuk akal yang dipertontonkan Samad dan elit-elit KPK dalam menyikapi kasus Samad.
Pertama, mereka selalu membangun opini bahwa komisioner KPK adalah orang yang tidak pernah salah.
Kedua, mereka ingin membawa publik kepada opini bahwa pimpinan KPK adalah malaikat suci yang tidak bisa tersentuh hukum, meski mereka melakukan pelanggaran hukum.
Ketiga, mereka cenderung membangun dinasti otoriter yang munafik. Di kasus lain mereka minta Presiden untuk tidak melakukan intervensi, tapi dalam kasus dugaan pidana elit-elit KPK, mereka memaksa presiden untuk turun tangan melakukan intervensi, malah meminta inpunitas segala.
Keempat, mereka terus menerus menjual rakyat dalam bersuara dan menafikan keputusan DPR sebagai legitimasi suara rakyat yang sah.
"IPW menilai saat ini Samad sudah menuai badai, dan kasusnya muncul dimana-mana. Agar lebih aman, lebih baik Samad mundur dari pada akan lebih menanggung rasa malu yang lebih dalam lagi. IPW juga mendesak Polri agar secepatnya menuntaskan kasus Samad agar KPK tidak tersandera prilaku prilaku negatif para elitnya," demikian Neta.
[rus]
BERITA TERKAIT: