Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widodo-bogiarto-1'>WIDODO BOGIARTO</a>
LAPORAN: WIDODO BOGIARTO
  • Senin, 16 Maret 2026, 19:14 WIB
Survei Konsumen: Komitmen Lingkungan Jadi Penentu Pilihan AMDK
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
rmol news logo Komitmen terhadap lingkungan semakin menjadi faktor penting bagi konsumen dalam memilih produk air minum dalam kemasan (AMDK). Survei terbaru menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan kini berperan besar dalam membentuk reputasi dan tingkat kepercayaan publik terhadap merek AMDK.

Laporan World Visualized bertajuk Indonesia’s Bottled Water Brands Face a Moment of Truth in 2025 mencatat bahwa konsumen menilai tanggung jawab lingkungan sebagai indikator penting dalam reputasi merek. Dalam kategori komitmen lingkungan, Aqua mencatat skor tertinggi sebesar 50,3 persen, unggul dibandingkan sejumlah merek lain di industri AMDK.

Di bawah Aqua, merek Le Minerale memperoleh skor 35,4 persen, sementara merek lain seperti Cleo, Vit, dan Hydrococo berada di kisaran sekitar 25 persen.

Kesadaran publik terhadap isu sampah plastik juga terus meningkat seiring bertambahnya volume sampah di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA).

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat timbulan sampah nasional mencapai sekitar 36 juta ton pada 2024 dari 342 kabupaten/kota, dengan 19,59 persen diantaranya merupakan sampah plastik.

Sementara pada 2025, data sementara dari 249 kabupaten/kota menunjukkan timbulan sampah mencapai sekitar 25 juta ton, dengan 20,45 persen merupakan sampah plastik. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring proses penghitungan yang masih berjalan.

Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia, Bisuk Abraham Sisungkunon, mengatakan penggunaan galon guna ulang memiliki manfaat ekologis yang signifikan dibandingkan kemasan sekali pakai.

“Penggunaan galon guna ulang dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan galon sekali pakai,” kata Bisuk, dikutip Senin 16 Maret 2026.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga menunjukkan bahwa tanpa keberadaan galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen berpotensi beralih ke kemasan sekali pakai, yang dapat meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.

Galon guna ulang dirancang untuk digunakan berkali-kali sehingga dapat menekan volume sampah plastik dan emisi karbon secara signifikan. Sebaliknya, galon sekali pakai langsung dibuang setelah digunakan sehingga berpotensi menambah beban sampah plastik di lingkungan.

Dalam skenario tanpa galon guna ulang, emisi sampah plastik bahkan diperkirakan dapat meningkat hingga 1,65 juta ton per tahun, yang berpotensi menghambat target pemerintah menurunkan sampah plastik sebesar 30 persen pada 2025.

“Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air atau laut, maupun dibuang langsung ke tanah,” kata Bisuk.

Survei tersebut melibatkan 1.094 responden pengguna internet berusia di atas 18 tahun di Indonesia dan dilakukan pada periode September hingga Oktober 2025.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA