"Ada upaya tidak demokratis memaksa DPC dan DPD membuat pernyataan bermaterai mendukung calon tunggal," ujar anggota DPD RI itu saat dihubungi wartawan (Rabu, 17/12).
Alasan kedua, lanjut Pasek, sebagai respon terhadap fakta yang ditemukan di lapangan. Fakta itu adalah banyak ketua DPC yang di-PLT, walaupun surat pemecatan itu tidak ditandatangani oleh Ketua Harian Syarief Hasan dan Sekjen Ibas Yudhoyono. Padahal di satu sisi mereka yang di-PLT itu adalah loyalis yang memilih SBY pada kongres sebelumnya.
"Saya sudah temukan puluhan. Kalau begini terus, roda organisasi tidak berjalan sehat. Biarkan kader yang memiliki hak untuk mencalonkan diri maju sebagai calon ketua umum," sambung Pasek.
Tidak hanya itu, Pasek juga berkeinginan untuk menghapus paradigma bahwa Demokrat adalah partai keluarga. Menurutnya, Demokrat tidak boleh menjelma sebagai partai kerajaan.
"Saya ingin menerobos paradigma bahwa Demokrat itu partai keluarga. Tapi kalau partai berazaskan kekeluargaan boleh. Tapi jangan jadi partai keluarga atau partai kerajaan," lanjutnya.
Fakta bahwa Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan calon incumbent terkuat, tidak menggoyahkan langkah Pasek untu tetap maju. Menurut hematnya, dalam sebuah pemilihan harus ada kompetisi yang terjadi untuk menegakkan demokrasi dengan memberikan alternatif pilihan.
"Ibarat piala dunia, masa tidak ada kompetisi? Masa akan membiarkan Jerman menang? Biarkan lah Indonesia ikut supaya ada kompetisi," ujar Pasek menganalogikan.
"Saya ingin membangun Demokrat dengan karakter kader pejuang, bukan penikmat. Makanya kalau kader berkarakter sengkuni tidak akan nyaman dengan karakter
saya. Mereka pasti akan belingsatan," tandas loyalis mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum itu.
[rus]
BERITA TERKAIT: