Golkar memiliki pengalaman panjang mengelola perbedaan aspirasi. Mekanisme dan aturan yang telah disepakati semacam PO, AD/ART dan hasil-hasil Munas sebagai acuan bersama. Kelaziman mengelola perbedaan aspirasi di Golkar dilakukan melalui rapat harian, rapat pleno, rapimnas, munas maupun munaslub, termasuk dalam hal penegakan disiplin bagi pengurus yang dianggap tidak patuh dengan keputusan Partai. Adanya penegakan disiplin yang dapat dipermasalahkan dikemudian hari dari sisi mekanisme dan aturan, sebaiknya dipertimbangkan kembali.
Achmad Suhawi, salah satu pengurus DPP Golkar yang hadir dalam pertemuan itu, berharap agar dinamika intern yang terjadi tidak mengganggu konsolidasi Golkar pasca Pileg dan Pilpres 2014. Kader Kosgoro 57 ini menghimbau agar setiap kader, tokoh, pimpinan dan sesepuh Golkar tetap menjadi lokomutif kekompakan dalam mensikapi dinamika politik nasional yang berkembang demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara.
Jhonson Silitonga mengatakan bahwa perbedaan pilihan dalam Pilpres 2014 harus dihormati, sambil menunggu keputusan MK. Mantan wakil ketua Umum BAKORNAS Fokusmaker ini beranggapan bahwa Golkar adalah pemenang kedua dalam Pileg sehingga tetap akan mampu mewarnai politik nasional ke depan.
"Dengan syarat, Golkar tetap solid," kata salah satu Ketua DPD Partai Golkar Jakarta Timur ini.
Hendra Sibuea, DPP Wira Karya, berharap agar seluruh elit dan tokoh Golkar bersikap korektif terhadap kinerja dan posisioning Golkar. Hal ini bercermin pada hasil Pileg dan Pilpres 2014 yang kurang menguntungkan Partai Golkar, dan sebaiknya tidak bersikap saling menyalahkan antara yang satu dengan yang lain.
Mereka sepakat, Aktivis Muda Golkar akan terus melakukan konsolidasi dengan mengajak elit dan kader Golkar untuk menjaga kebersamaan dengan memberikan citra positif dan konstruktif mulai dari pusat sampai dengan daerah.
[rus]
BERITA TERKAIT: