Wacana yang bertebaran terkait dengan Musyawarah Nasional (Munas) belum mencapai titik klimak. Masih banyak hal-hal yang mungkin terjadi, dan hampir bisa dipastikan, sulit diprediksi. Dinamika yang tak bisa diperkirakan adalah gaya permainan Golkar yang bahkan sulit sitemui di partai lain.
Dinamika ini misalnya terkait dengan Munas itu. Dipastikan, Munas yang mau dipercepat sebagaimana usulan sebagian kader Golkar, hanyalah pintu masuk untuk menggusur Aburizal Bakrie dari kursi Ketua Umum Golkar. Maka tak heran, kubu Aburizal Bakrie mati-matian agar Munas tetap beralngsung pada 2015 sebagaimana amanat Munas Pekanbaru.
Terkait wacana ini, situasi di internal Golkar jauh lebih panas dibandingkan dengan wacana-wacana yang muncul ke permukaan. Wacana yang timbul dalam lalu lintas komunkasi terbuka itu, hanyalah sinyal-sinyal kecil untuk menguji kekuatan lawan, sekaligus untuk perang psikologis.
Di luar wacana yang dilemparkan ke publik, sejumlah elit Golkar dari masing-masing kubu terus menjalankan strategi; dari mulai komunikasi dengan daerah, konsolidasi dengan menggunakan latarbelakang dan peta demografis yang serupa, hingga menjaring dana yang sebesar-besarnya.
Dana ini dinilai penting di Partai Golkar. Komunikasi dengan daerah maupun mencari kedekatan emosional dan latarbelakang tak berarti apa-apa bila logistik tak memadai. Dana atau uang, dinilai menjadi ruh utama penggerak Partai Golkar yang dinilai sangat pragmatis itu.
Maka, jawaban sementara publik, bagaimana ujung dinamikan Golkar itu, adalah terletak pada siapa yang memegang dana atau logistik lebih besar. Munas bisa terjadi 2014 atau 2015, tergantung siapa pemodal terbanyak.
[rus]
BERITA TERKAIT: