Denny JA: Debat Capres Tak Banyak Berpengaruh

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Selasa, 10 Juni 2014, 07:38 WIB
Denny JA: Debat Capres Tak Banyak Berpengaruh
Denny JA
rmol news logo Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan debat capres dan cawapres di Indonesia tidak banyak berpengaruh pada perubahan dukungan pemilih. Termasuk debat tadi malam antara pasangan Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK.

Pertama, survei LSI lima tahun lalu soal debat serupa, menunjukkan, yang menonton debat itu kurang dari 30 persen pemilih. Penonton debat umumnya kalangan menengah kota saja, terutama yang pendidikannya SMA ke atas, yang totalnya hanya 30 persen. Sementara 70 persen pemilih Indonesia yang pendidikan akhirnya adalah SMP ke bawah sangat jarang yang menonton debat presiden itu.

"Kondisi ini berbeda dengan debat presiden di Amerika Serikat, yang ditonton lebih dari 60 persen pemilihnya," kata Denny JA, Selasa (10/6).

Kedua, dalam debat capres dan cawapres Indonesia, umumnya hasilnya berimbang saja. Tak ada yang menang dan kalah mencolok. Seperti antara pasangan Prabow-Hatta dan Jokowi-JK semalam. Prabowo lebih konsepsional dan Jokowi lebih praktikal. Dalam enam sesi debat itu, Jokowi lebih kuat pengalaman praktisnya di birokrasi dan Prabowo lebih kuat di abstraksi.

"Tak semua penonton debat lebih mengutamakan substansi debat. Banyak juga yang lebih fokus pada gaya berdebat. Tak ada yang menang atau kalah mencolok dalam debat presiden semalam, sebagaimana juga di lima tahun lalu," jelas Denny JA lewat akun twitter @DennyJA_WORLD.

Ketiga, debat capres dan cawapres di Indonesia umumnya hanya mengkonfirmasi pilihan dari pemilih yang sudah punya pilihan saja. Bagi pendukung Prabowo sebelum debat, debat semalam lebih menguatkan dukungannya ke Prabowo. Hal yang sama juga berlaku bagi pendukung Jokowi.

Denny JA melanjutkan, penilaian mengenai siapa yang menang dan kalah dalam debat semalam, lebih banyak dipengaruhi oleh pilihan atas capres sebelum debat. Penilaian yang lebih obyektif dan atas debat lebih terjadi di kalangan elit akademisi yang non-partisan saja, dan mereka itu sangat minoritas.

"Sejak 2004, debat capres dan cawapres di Indonesia memang kurang punya efek elektoral. Namun debat itu tetap penting ditradisikan karena sehat bagi perkembangan demokrasi. Seiiring dengan waktu, semakin banyaknya para terdidik di Indonesia, debat capres akan semakin berpengaruh," demikian Denny JA. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA